PERIODE KESUSASTRAAN ZAMAN MODERN

 1. Pendahuluan

      Kesusastraan Arab adalah salah satu dari hasil kebudayaan bangsa arab yang bahkan telah ada sebelum datangnya agama Islam dan berkembang hingga saat ini. Para pakar sastra telah membagi hal itu beberapa periode, sesuai dengan kriteria dan karakteristik yang telah disepakati. Karena luasnya pembahasan tersebut, maka penulis hanya akan mengulas tentang Sejarah Kesusastraan Arab pada Zaman Modern.  

      Sastra Arab merupakan sastra kawasan Asia Barat yang telah berumur ribuan tahun, berdampingan secara komplementer dengan sastra kawasan lain, dan secara meyakinkan menjadi anggota sastra dunia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan penghargaan Nobel bidang sastra yang diterima Najib Mahfuz pada tahun 1988. Ia hadir sebagai ekspresi masyarakat Arab tentang kehidupan yang diungkapkan dengan nilai estetika yang dominan. Sejauh ini, sastra Arab telah menjadi bagian dari kajian banyak mahasiswa dan pengamat di seluruh bagian dunia.
            Tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana sejarah pertumbuhan karya sastra Arab di masa modern, lengkap dengan jenis-jenis karya sastranya dan sastrawan-sastrawan yang fenomenal. Oleh karena itu, penulis akan mencoba membongkar sejarah pertumbuhan sastra Arab modern dengan tuntutan yang sungguh menantang, sebagaimana diharapkan oleh mahasiswa dan pengamat sastra Arab sebagai pengantar mengetahui perkembangan kesusastraan Arab modern.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Keadaan Lingkungan yang Mempengaruhi Kesusastraan Arab Modern

            Menyebarnya sastra arab sangat erat kaitannya dengan bersinarnya islam secara luas ke berbagai belahan dunia terutama pada abad ke 7 hijriah, hal ini dikarenakan ia adalah bahasa Al-Qur’an yang mulia. Bahasa yang indah ini menyebar ke berbagai penjuru timur dan barat, sehingga sebagian besar peradaban dunia pada masa itu sangat terwarnai oleh peradaban Islam.  

            Yang dimaksud dengan sejarah kesusastraan Arab modern adalah kesusastraan yang dihasilkan mulai dari akhir Perang Dunia I, khususnya mulai dari tahun 1920, yaitu ketika lepasnya beberapa negara Arab dari pemerintahan kolonialisme dan imperialisme. Pertama-tama adalah Irak yang merdeka menjadi sebuah kerajaan pada tahun 1921, kemudian Mesir yang berhasil memproklamasikan sebuah konstitusi baru, yaitu pada tahun 1923, setelah pemerintahan Inggris berakhir pada tahun 1922. Lalu Libanon yang berhasil mendeklarasikan dirinya sebagai negara Republik pada tahun 1926, dan setelah itu diikuti oleh negara-negara Arab lainnya.

            Memang tidak mudah menggambarkan batas antara kesusastraan Arab masa kebangkitan dan masa modern. Akan tetapi, ada perbedaan nyata yang dapat membantu membedakan kedua masa tersebut, yaitu kesusastraan pada masa modern lebih kaya, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya dibanding dengan masa kebangkitan. Tema-temanya lebih bervariatif dan orang-orang Arab juga lebih terbuka terhadap pengaruh eksternal, baik dari timur maupun dari barat.

            Minat universitas-universitas di Amerika dan Eropa terhadap kesusastraan Arab modern sangat besar. Sebagai buktinya, di universitas-universitas telah diselenggarakan kuliah atau penelitian dalam bahasa Arab. Seperti halnya kesusastraan dunia lainnya. Selain itu terdapat majalah-majalah, surat kabar, buku-buku berbahasa Arab yang membicarakan aliran-aliran sastra, baik yang berbasis nasional maupun internasional. Para mahasiswa Arab dan non Arab telah memperluas studinya tentang kesusastraan Arab. Demikian pula dengan para sastrawa tidak terbatas dari golongan atas tetapi juga dari berbagai golongan di masyarakat. Para penulis wanita juga mulai memperluas pendidikannya tentang kesusastraan. Oleh karena itu, tidak dapat disangkal lagi bahwa kesusastraan modern merupakan sebuah tempat terjadinya perubahan-perubahan yang terus-menerus.

            Kesusastraan Arab modern bercermin pada suasana hidup yang kontemporer dalam semua aspeknya dan manifestasinya yang beranekaragam. Hal ini dapat dilihat dari berbagai genre dan gayanya. Namun demikian, sastra klasik pun masih tetap terasa, meski secara bertahap mengalami penurunan.

2. Karakteristik Kesusastraan Arab Modern

            Kesusastraan Arab Modern memiliki wajah baru baik dari segi bentuk maupun isinya, dan muncul pula qosidah-qosidah Arab dengan wajah yang baru. Syair Arab modern mampu bertahan dari akhir abad ke 19 sampai sekarang yang menunjukkan keberadaannya.

           

            Dari segi temanya, puisi pada masa ini dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. tema-tema lama yang masih dipakai dan semakin banyak digunakan
    1. wasf (diskripsi), pada masa modern tema-tema ini sudah memberikan gambaran tentang masalah-masalah yang menyangkut perasaan atau jiwa.
    2. Fahr (membanggakan diri). Maksud digunakannya tema ini adalah untuk membangkitkan perjuangan suatu bangsa dalam melawan penjajahan asing, yang diagung-agungkan dalam tema ini biasanya adalah tokoh-tokoh sejarah.
    3. Madah (puji-pujian), tema ini ditujukan kepada para pejuang kemerdekaan dan kebangsaan.
  2. Tema-tema yang mengalami sedikit perubahan, seperti:
    1. naqdun (kritikan), tema ini lebih banyak ditujukan kepada persoalan individu maupun kolektif.
    2. Keperwiraan, tema ini lebih banyak digunakan untuk mengagungkan sebuah bangsa atau umat
    3. Ratsa (ratapan), tema ini digunakan untuk meratapi para pejuang yang telah gugur di medan perang, bahkan untuk bangsa dan negara yang telah hancur.
    4. Ghazal (cinta), tema ini lebih fokus pada nyanyian-nyanyian cinta yang melukiskan gelora perasaan jiwa.
  3. Tema-tema baru yang muncul pada zaman modern, seperti
    1. Hamasah wa wathoniyyah(patriotik), tema ini berisi tentang rasa cinta tanah air dan bertujuan untuk membakar semangat rakyat dan menyeru kepada rakyat untuk mengorbankan segala-galanya demi negara.

وللاأوطان في دمّ كل حرّ     #        يد سلفت ود ين مستحقّ

ومن يسقى ويشرب بامنايا    #        إذا الاحرارلم يسقوويسقوا

ولايبنى الممالك كالضحايا    #        ولايدنى الحققوق ولايحق

ففى القتلى لاجيال حياة        #        وفتى الأسرى فدى لهمووعتق

    1. Syi’run Da’wah Ila Ishlahi al-ijtimaa’i(kemasyarakatan), sesuai dengan kondisi masyarakat pada waktu itu yang baru saja melepaskan diri dari cengkraman penjajah, masalah kemiskinan dan masalah sosial yang lain. Masalah-masalah ini yang menjadi sorotan para penyair pada masa modern.

ايها المصلحون ضاق بنا العيشف في مصر لنسه       #          و يطلب اسباب الحاة لذاه

طروب الأمانى يبالى بشعه                                 #          وإن ملأ الدنيا ضجيع نعاته

إذا نال  ما يرجوه لم يعنه امرؤ                             #          سواه ولم يحفل بطوله سكاته

سواء عليه منزل السخط والرضا                          #          إذا نال ما يرضيه من شهواته

يرى الدين و الدنيا  ثراء يصيبه                           #          و قصرا نزل العين عن شرفاته

3. Asy-syi’ru al-wijdaani(kejiwaan), tema ini berisi tentang rintihan, keluhan jiwa penderitaan, kesengsaraan, harapan, dan cita-cita.

مرت االايام

لم نلتق, انت هناك وراء مدى الااحلام

في افق حف به المجهول

وانا امشى, وارى وانام

استنفد ايامى واجر غدى المعسول

فيفر الى الماضى المفقود

ايامى تأكلهااالاهات متى ستعود؟

مرت ايام لم تتذكر ان هناك

في زاوية من قلبك حبا مهجورا

عضت في قدميه الاشواك

حبا يتضرع مذعورا

هبه النور..............

c.      Puisi drama, yakni puisi yang dibuat secara puitis.

قيس    : ليلاى , ليلى القلب

ليلى    : قيس , مالى                             دارت بى الأرض وساء حالى                                                          

قيس     : فد اك ليلى مهجتى ومالى            من السقام ومن الهزال                                                                   

 تعالى اشكى لى النوى تعالى        القى ذراعيك على خيال                                                                 

(تصافحه بشوق)

 

 

ليلى    : أحق حبيب القلب انت بجانبى احلم سرى أم نحن منتبهان

           أبعد تراب المهد من أرض عامر بأرض ثقيف نحن مغتربان

3. Penyair-Penyair Pada Kesusastraan Zaman Modern

            Penyair-penyair yang terkenal pada masa modern diantara adalah:

a.      Mahmud  Sami Basya Al-Barudi

          Dia adalah seorang yang ahli dalam berperang dan tulis menulis, pemimpin para sastrawan, penyair para raja, seorang pimpinan pada masa Revolusi Arab, dilahirkan pada tahun 1255, pernah menuntut ilmu di sekolah militer, kemudian menguasai kepemimpinan dewan revolusi Arab. Salah satu hasil karyanya :

 والدهر كالدهر لا ينفكّ ذا كدر     # وإنّما صفوه بين الورى لمع

 لو كان للمرء فكرٌ في عواقبه       # ما شان أخلاقه حرص ولا طمع

 وكيف يدرك مافي الغيب من حدث # من لم يزل بغرورالعيش ينخدع

 دهرٌيغرّ وآمالٌ تسرُّ                    # واعمارٌ تمرُّ و أيّامٌ لها خذاعُ

 يسعى الفتى لأمور قد تظرّ به         #وليس يعلم مايأتي و ما يدع

يا ايّها السّادر المزورّ من صلف       #مهلا فإنّك بالأيّام منخدع

دع ما يريب وخذفيما خلقت له          #لعلّ قلبك بالإيمان ينتفع

إنّ الحياة لثوب سوف تخلعه             #وكلّ ثوب إذا ما رثّ ينخلع

 

b.      Ahmad Syauqi (1868-1932 M)

Ahmad Syauqi dilahirkan di daerah Alhanafi Kairo pada 16 Oktober 1868 M(1285 H). Darah campuran yang ada pada dirinya berasal dari Arab, Turki dan Yunani. Darah Arab ia dapatkan dari ayahnya yang berasal dari suku Kurdi, sedangkan Ahmad Halim sang kakek (bapak dari ayahnya) berasal dari Turki yang kemudian menikah dengan Tamraz, seorang dara Yunani. Silsilah yang gado-gado ini berpengaruh kuat pada karakter sastra Syauqi, dimana Arab dan Yunani terkenal dengan syair dan para sastrawannya.

Banyak anekdot yang selalu dituangkan penulis sejarah seni dan budaya untuk memberi gambaran betapa intimnya keluarga Syauqi dengan para petinggi Istana: Sewaktu kecil, mata Syauqi sakit. Syauqi kecil tidak dapat melihat ke bawah. Pada suatu hari sang nenek membawa Syauqi kecil mengunjungi Ismail (Penguasa Mesir pada waktu itu). Melihat mata Syauqi yang tidak dapat melihat ke bawah, Ismail mengambil beberapa butiran emas kemudian menaburkannya di atas permadani. Seketika pandangan Syauqi ‘turun’ ke bawah, lalu berusaha mengumpulkan dan bermain dengan butiran emas. Melihat tingkah polah Syauqi itu, Ismail memberi saran kepada sang nenek agar mengobati cucunya seperti yang ia lakukan. Sang nenek menjawab, “Obat seperti ini tidak dapat saya jumpai kecuali pada apotik paduka”. Cerita ini menunjukan kecerdasan neneknya yang memang berasal dari Yunani dengan jawaban yang nyastra.

            Pada masa Syauqi dua sistem pendidikan diberlakukan. Pertama sistem pendidikan agama yang dipelopori al-Azhar, dan kedua sistem Eropa yang berorientasi pada sains dan sastra. Syauqi memilih alternatif  kedua. Setelah menamatkan Pendidikan Dasar dan Menengahnya di bawah asuhan syekh Sholeh, ia melanjutkan studi di Fakultas hukum, kemudian pindah ke “Fakultas Tarjamah” sehingga mendapatkan ijazah dalam bidang Seni Terjemah. Kemudian Syauqi melanjutkan studinya di Perancis untuk memperdalam ilmu hukum dan sastra Perancis. Di Perancis Syauqi mulai bersentuhan dengan sastra dan para sastrawan Eropa khususnya sastra Perancis. Ia banyak membaca dan menonton drama Perancis seperti Son of Alexandria Diamas dan Ji Di Mo Basan. Pada tahun 1894 Syauqi kembali ke Mesir. Wawasan dan pengetahuan Syauqi juga semakin bertambah saat ia habiskan empat tahun berkelana di Perancis, ia semakin menguasai bahasa Perancis dan Turki sekaligus.

            Akibat campur tangan Inggris, pada saat Perang Dunia I meletus Syauqi dan para pejabat istana lainnya diasingkan ke Andalusia (Spanyol). Di pengasingan inilah Syauqi dicekam kesendirian dan kerinduan akan tanah airnya yang kemudian dituangkan ke dalam syair-syair melankolis. Usai Perang Dunia reda, Syauqi kembali ke tanah airnya mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya terutama dalam bidang sastra sampai menghembuskan napas terakhir pada tahun 1878 H.

Tema-tema Syair Syauqi

            Secara global tema-tema yang diusung syair Syauqi terbagi dua; Pertama tema-tema “kuno” mengikuti jejak para sastrawan klasik, tema ini diantaranya adalah al-madh (sanjungan), al-fakher (kebanggan), al-ghozal (rayuan), al-rosta (belasungkawa) dan al-Hikmah (kata-kata bijak) serta tema-tema lain yang berkaitan dengan etika dan estetika. Kedua adalah tema-tema kontemporer yang tidak dapat dijumpai pada syair klasik. diantara tema-tema baru tersebut :

1.      Tema sejarah yang Syauqi ungkapkan bukan hanya sebuah rentetan peristiwa tertentu yang sudah terjadi. Pada tema sejarah ini Syauqi menyisipkan suatu ibroh (pelajaran) yang ada pada sejarah dan peristiwa tersebut. Syauqi sendiri tahu banyak sejarah Mesir Kuno, sejarah Islam dan Sejarah Turki. Diantara kumpulan syairnya yang bertemakan sejarah adalah: Kibar al-Hawadis fii Wady el-Nil (Prahara Besar di Lembah Nil) yang menceritakan sejarah awal Mesir, Tut Akhmun wa al-hadharah (Tut Akhmun dan Peradabannya), Waqa’i al-Usmaniyah (Fakta-fakta Dinasti Ottoman) dan syair-syair sejarah Islam.

2.      Tema Sosial. Kepedulian Syauqi terhadap sosial budaya dilatarbelakangi oleh gap antara kehidupan masyarakat dan istana. Kesenjangan yang menganga itu semakin mengentalkan niatnya untuk semakin menyatu dengan rakyat dan memperhatikan kalangan grass-root. Syair-syair sosial yang diangkat Syauqi bisanya berkisar tentang kemiskinan, kebodohan dan petaka penyakit yang didera rakyat Mesir. Dalam tema sosial ini kita bisa melihat judul-judul puisinya seperti: al-Hilal wa al-Sholib al-Ahmaroni (Bulan Sabit Merah dan Salib Merah), al-ilmu wa al-ta’lim wa wajibul mu’alim (Sains, Pendidikan dan Tuntutan Guru), dan lain lain.

3.      Fukahah (Anekdot). Meski syair-syairnya yang satiris dan tak pelak membuat pembacanya tertawa geli, namun anekdot Syauqi lebih menekankan substansi humor tersebut bukan pada permainan kata-kata seperti biasa dijumpai pada karya sastrawan lain. Dalam anekdotnya, Syauqi banyak menggunakan kata-kata samaran untuk menutupi identitas seseorang yang ia tulis. Diantara tema humor dalam syair Syauqi adalah al-Asad wa wajiiruhu al-himar (Singa dan Menteri Keledai).

4.      Syair Drama. Ketika itu belum ada penyair yang memperkenalkan bentuk baru ini dalam sastra Arab, namun ternyata Syauqi berhasil membuat terobosan baru tersebut. Naskah drama yang dikemas dalam bentuk syair baru dikenal Arab di zaman modern ini, dan Syauqi adalah pelopornya.

            Darah Yunani yang dimiliki Syauqi rupanya telah mendorongnya menciptakan syair drama. Bukan hanya itu, ia juga banyak membaca drama-drama ‘produk’ Barat ketika masih belajar di Perancis. Drama yang diangkat Syauqi pada umumnya bersumber dari sejarah Mesir Kuno. Drama yang pertama kali diciptakan Syauqi berjudul “Cleopatra” yang ia tulis pada tahun 1927. Drama ini menceritakan hubungan antara kekaisaran Romawi dan kerajaan Mesir pada masa Bathelius di Alexandria yang pada waktu itu dikuasai oleh Cleopatra satu abad sebelum Masehi. (Dr Muhammad Anani, Ajmalu ma kataba Amir al-Syu’ara Ahmad Syauqi, Maktabat al-Usrah 2003).

            Bukan rahasia lagi jika banyak sastrawan Barat mengangkat kisah “Cleopatra” sebagai sejarah hitam kerajaan Romawi dan Yunani, karena mereka mengilustrasikan Cleopatra sebagai wanita jalang yang menjual dirinya untuk mengadu domba antara Antonio (komandan perang Yunani) dan Actafius (sang kaisar) pada pertempuran sengit yang dikenal dengan petempuran Actiyum, yaitu perang yang berkecamuk di lautan lepas. Sebaliknya, Syauqi berhasil menampilkan sosok Cleopatra sebagai pahlawan Mesir yang cerdas dan berani, rela mengorbankan dirinya untuk membebaskan Mesir dari penjajahan Yunani.

Pengaruh Istana Dalam Syair-syair Syauqi

            Di atas telah disinggung bahwa Syauqi mendapatkan kedudukan tinggi di istana pada masa Sultan Abbas. Ia sendiri diangkat Abbas sebagai penterjemah istana dan sebagai orang kepercayaanya, banyak keputusan-keputusan kerajaan diadopsi dari inspirasi Syauqi.

            Masalahnya adalah kedudukan dan kepercayaan yang didapatkan Syauqi di istana membuat ia jauh dari kehidupan rakyat, dan tidak memperhatikan keadaan rakyat pada waktu itu, bahkan feeling sastranya pun banyak berkaitan dengan istana yang ia tempati. Syair-syair yang lahir ketika itu berisikan pujian-pujian terhadap kaum ningrat istana.

            Kondisi kehidupan politik Mesir yang carut marut pada masa itu sangat mempengaruhi Syauqi untuk menjadi penyair istana. Di hadapan Syauqi, istana dan kehidupannya merupakan sumber kebesaran. Saat itu seluruh jiwa dan raga Syauqi adalah milik istana. Bahkan seandainya saat itu ia tengah marah, maka marahnya sebagai ungkapan dukungan penuh terhadap istana.

 

ومن انتاجه :

يقول لأبى الهول:

كأنّ الرمال على جانبيك # وبين يديك ذنوب البشر

كأنّ فيها لواء القضاء     # على الأرض أو ديدبان القدر

ومن قوله فى الإسلام:

من عادة الإسلام عاملا  # ويسوّد المقدام والفعّال

ظلمته ألسنة تؤاخذه بكم  # وظلمتوه مفرّطين كسالى

c.       Ali Ahmad Ba Katsir

            Dia adalah seorang novelis, penyair, dan penulis drama terkenal dari tanah Arab. Karya-karyanya banyak dibaca masyarakat Mesir dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Ia juga dikenal sebagai sastrawan modern, satu angkatan dengan sastrawan tersohor Mesir, Naguib Mahfouz.

            Kiprahnya di bidang sastra meninggalkan catatan tersendiri bagi masyarakat Arab. Ba Katsir adalah orang yang pertama menulis operet berbahasa Arab fasih. Di dunia seni drama, ia adalah penulis drama berbahasa Arab dalam bentuk puisi yang pertama kali. Ia juga pelopor drama bertema Palestina. Salah satu karyanya, epos Umar bin Khathab [al-Malhamah al-Islamiyyah al-Kubrâ], merupakan drama terpanjang kedua di dunia setelah epos tentang perang Napoleon karya Thomas Hardy.

            Ba Katsir lahir di Surabaya, 21 Desember 1910. Ia keturunan Arab Hadramaut. Saat usia 10 tahun, ia dibawa ayahnya pulang ke Hadramaut, Yaman. Ayahnya ingin agar Ba Katsir mendapat pendidikan secara Arab dan Islami. Di tanah leluhurnya itu ia dimasukkan ke Madrasah an-Nahdah. Ia belajar ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab di bawah asuhan seorang qadi, penyair, dan ahli bahasa Arab ternama saat itu, Syekh Muhammad bin Muhammad Ba Katsir. Di usia yang masih belia, keahliannya menulis sastra sudah terlihat. Pada usia 13 tahun ia mulai pandai menciptakan syair.

            Kehidupan Ba Katsir selanjutnya banyak dijalani dengan berpindah-pindah. Dari Hadramaut, ia pindah ke Aden. Kepindahannya disebabkan kesedihan yang mendalam. Istrinya meninggal dunia tak lama setelah mereka menikah. Dari Aden ia pindah ke Somalia, Habasyah, dan kemudian menetap agak lama di Hijaz [Arab Saudi]. Di tanah Hijaz ini, ia mengarang syair panjang yang diberi judul Nadzâm al Burdah. Ia juga menulis drama pertamanya, Hamman [Fî bilâd al-Ahqâf].

            Sekian lama menetap di Hijaz, Ba Katsir pindah ke Mesir. Di sini ia masuk ke Universitas Fuad I [Cairo University], Fakultas Sastra, jurusan Bahasa Inggris. Bidang yang ia pelajari ini, memberi kesempatan baginya untuk mempelajari karya-karya sastra dari luar Arab, termasuk Romeo-Julliet, karya Shakespeare. Sempat juga ia menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab berbentuk puisi bebas.

Di antara karya-karya Ba Katsir yang terkenal antara lain, Wa Islamah, sebuah novel yang menceritakan perjuangan umat Islam saat diserbu pasukan Mongol dan ‘Audat al-Firdaus [Kembalinya surga Firdaus] yang bercerita tentang perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan.

قائمة شعراء في العصر الحديث

جبران خليل جبران

جميل صدقي الزهاوي

خليل مطران

نزار قباني

عبد الباقي العمري الفاروقي

أبو الفضل الوليد

قاسم حداد

أحمد شوقي

حسن إبراهيم الأفندي

عدنان الصائغ

خليل ناصيف اليازجي

زاهية بنت البحر

ابن شيخان السالمي

إيليا أبو ماضي

ابراهيم اليازجي

حافظ ابراهيم

عبد الله البردوني

معروف الرصافي

أحمد مطر

إبراهيم الطباطبائي

إبراهيم الأحدب

د. جمال مرسي

محمود السيد الدغيم

بدر شاكر السياب

صباح الحكيم

إسماعيل صبري باشا

ابن شهاب العلوي

د. إكرامي قورة

أبو الصوفي

محمد القيسي

إبراهيم محمد إبراهيم

غيداء الأيوبي

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                              

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

            Kesusastraan Arab modern adalah kesusastraan yang dihasilkan mulai dari akhir Perang Dunia I, khususnya mulai dari tahun 1920, yaitu ketika lepasnya beberapa negara Arab dari pemerintahan kolonialisme dan imperialisme. Kesusastraan Arab modern bercermin pada suasana hidup yang kontemporer dalam semua aspeknya dan manifestasinya yang beranekaragam. Tema-temanya lebih bervariatif dan orang-orang Arab juga lebih terbuka terhadap pengaruh eksternal, baik dari timur maupun dari barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Sutiasumarga, Males. (2001). Kesusastraan Arab Asal Mula dan Perkembangannya. Jakarta: Zikrul          Hakim.

Syadili, Muhammad dkk. (1979). Al Adab wa Nushuus. Saudi Arabia: Wizarotul Ma’arif.

كتاب من تأليف سليمان علي أبو عبيدة،" اللغة العربية للصف الثاني عشر الأدبي والعلمي"، دار النشر: المتحدة       للطباعة والنشر، سنة 1428هـ ـ 1429هـ ، 2007م ـ 2008م .

كتاب من تأليف الدكتور . يحي شامي، " موسوعة شعراء العرب"، دار النشر: دار الفكر العربي/      بيروت، الجزء الثالث.

Comments

Popular posts from this blog

Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa (Semantik)

IBDA:L DAN WAQAF

SEJARAH SASTRA PADA ZAMAN ABBASIYAH