IBDA:L DAN WAQAF

  

  1. PENDAHULUAN

      Ilmu morfonologi merupakan cabang dari ilmu linguistik yang membahas mengenai perubahan fonem akibat pertemuan morfem dengan morfem yang lainnya.

Kholisin (2005) menyatakan Istilah morfofonologi (morfonologi), pertama kali dikenalkan oleh salah seorang tokoh linguistik aliran Praha, N. S. Trubetskoy, pada Kongres Pakar Filologi Bahasa Slavia di Praha pada tahun 1929. Istilah tersebut kemudian dikemukakan lagi oleh Leonard Bloomfield, seorang tokoh linguistik Amerika, pada tahun 1933 dengan istilah morfofonemik (Martinet, 1973:91). Menurut Trubetskoy (Dressier, 1985), morfonologi merupakan salah satu disiplin linguistik yang berbeda dari fonologi maupun morfologi. Morfonologiberkaitan dengan penggunaan perbedaan fonologis yang bersifat morfemis. Menurut Swadesh (Dressler, 1985) morfonologi adalah studi tentang struktur fonemis morfem yang berkaitan dengan perubahan fonem sebagai struktur morfem.

            Perubahan bunyi ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah kesulitan orang-orang Arab dalam menyebutkan atau mengucapkan suatu lafadz sehingga orang-orang Arab merubah cara baca atau bunyi lafadz tersebut. Terdapat beberapa perubahan bunyi dalam bahasa Arab diantaranya asimilasi,     idgham (geminasi), i’lal (pelesapan), ibda:l (substitusi), dan waqaf (penghentian). Dalam makalah ini penulis membahas mengenai perubahan bunyi idal dan wakaf.

 

  1. IBDA:L

      Kholisin dan Hanafi (2005: 96 )menyatakan bahwa ibda:l berasal dari verba “abdala”yang berarti menggantikan. Maka kata ibda:l berarti penggantian. Sedangkan menurut Al Ghollayainiy (2007:227) Ibda:l adalah pembuangan huruf dan menempatkan huruf yang lain pada tempatnya. Ibda:l hampir sama dengan I’lal namun berbeda objek. I’lal hanya khusus membuang atau menggantikan huruf illah atau semivokal namun ibda:l juga membuang atau mengganti huruf shahih atau konsonan.

      Menurut Syahin (1982: 168) ibda:l tidak akan terjadi tanpa adanya kedekatan atau kemiripan antara bunyi-bunyi yang saling menggantikan tersebut. Maksud dari kedekatan itu adalah dua bunyi tersebut bertemu pada beberapa sifat atau karakteristik yang sama dan jauh dari karakteristik yang lain. Maka jika pada dua bunyi terdapat kedekatan tersebut maka salah satu hurufnya dapat menggantikan huruf yang lainnya. Kemiripan bunyi tersebut berdasarkan pada dua patokan berikut.

1.      Kedua huruf yang saling menggantikan itu sama-sama konsonan atau sama-sama semivokal atau sama-sama vokal. Tidak mungkin konsonan diganti dengan vokal atau sebaliknya.

2.      Adanya kesamaan atau kedekatan makhroj atau daerah artikulasi.Daerah artikulasi tersebut dibagi menjadi empat bagian sebagai berikut.

·         Daerah bagian depan mulut, yang meliputi bilabial dan labiodental. Huruf-huruf yang keluar dari daerah ini adalah ف/f, m/م, dan b/ب

·         Daerah tengah mulut atau daerah dentalveolar meliputi gigi, gusi, dan langit-langit. Huruf-huruf yang keluar dari daerah ini adalah t/ت , d/د, ط/th, ن,/n ض/dl, ج,/jش ,ل/ l,ر/r , ث/ts,ذ/dz, ظ/dh , س/s,  ز/z, ص/sh ,ي/y. Misal:

·         Daerah belakang mulut atau sekitar palatal, dan velar. Huruf-huruf yang keluar dari daerah ini adalah    خ/kh, غ/gh, ق/q, ك/k.

·         Daerah laringal dan faringal. Huruf-huruf yang keluar dari daerah ini adalah ع/’, ح/h, هـ/h, ء/a.

Berdasarkan patokan di atas, tidak mungkin terjadi penggantian antara bunyi-bunyi yang tidak sama daerah artikulasinya. Misalkan pergantian konsonan k/ك dengan konsonan s/س. Namun, terdapat pula ibda:l yang bersifat sima’i. Ibda:l yang bersifat sima’i  adalah ibda:l yang tidak mengikuti kaidah atau patokan di atas. Ibda:l sima’i ini biasa digunakan dalam penggunaan bahasa-bahasa ammiyah.

Sirhaan (1956: 49) memberikan beberapa contoh mengenai ibda:l sima’i antara lain.

1.     Kasykasyah yaitu penggantian konsonan ك dengan ش  dengan tujuan membedakan kata ganti perempuan dan laki-laki. seperti perkataan Al Majnun pada suatu riwayat:

فعيناش عيناها و جيدش وجيدها- ولكن عظم الساق منش دقيق

2.      Thamthamaniyah yaitu penggantian konsonan ل/l pada ال dengan م/mseperti pada dialek Himyar:

طاب الهواء            طاب امهواء

3.      Watmul Yaman yaitu penggantian konsonan س/s dengan konsonan ت/t seperti kata penyair:

ياقبح الله بني السعلات- عمرو بن يربوع شرار النات

                        ليسوا أعفاء ولا اكيات

 

  1. WAQAF

Al-Ghalayaini (2003:259) menyatakan bahwa, al-waqafu adalah memotong ucapan/perkataan pada akhir kalimat.  Apabila pada akhir kalimat berupa huruf mati maka harus diwaqafkan.

Contoh huruf sohih: اكتب, لم يكتب

Contoh huruf mu’tal: يحشى ويدعو

Apabila huruf akhirnya berupa vokal, maka menghilangkan  vokalnya.

Cara-cara untuk mewaqafkan:

1.    Apabila huruf terakhir tersebut dibaca /un/ atau /in/, maka huruf tersebut dibaca sukun contoh: هذا خالدٌ   dibaca هذا خالدْ   . Apabila huruf akhir dibaca /an/ maka diganti dengan alif رأي خالداً   dibaca رأي خالدا

2.    Apabila penulisan «إذا» dibaca /an/ dengan tanda tanwin, maka tanda tanwin tersebut dibuang dan mewaqafkannya dengan alif (ألف), apabila ditulis «إذن»  dengan nun, maka nun diganti dengan alif kemudian diwaqafkan.

3.    Mewaqafkan dengan nun al-tauki;d al-sa;kinah al-khofifah (نون التوكيد الساكنة الخفيفة) , maka nun tersebut diganti dengan alif (ألف) kemudian diwaqafkan. Contohnya:  لنسفعا بالناصية asal katanya لنسفعن بالناصية

4.    Ha’ dhomir untuk kata mufrod mudhakar (هاء الضمير للمفرد المذكر), maka menyambungnya dengan huruf vokal panjang yang sejenis dalam mengucapkannya kecuali setelah huruf ha’ bertemu dengan konsonan.

Contoh: رأيتهُ وسررت به keduanya dilafatkan رأتهُو وسررت بهِي apabila diwaqaf maka harus membuang vokal panjangnya (واو والياء) maka dibaca: رأيتهْ وسررت بهْ . Kecuali pada saat darurat, maka boleh melafalkannya dengan vokal yang sesuai, contoh: أن لون أرضه سماؤهُ

5.    Mewaqafkan kata yang naqis (وقفت على المنقوص), apabila dalam keadaan nasab, maka huruf ya’nya (الياء) tetap, begitu juga saat ditanwin, contoh: سمعنا منادياً  atau tanpa ditanwin, contoh: طلبت المعالي

Apabila dalam keadaan rofa’ dan jar, maka huruf ya’ (الياء) harus dibuang, contoh: مررت بقاضْ

6.    Mewaqafkan kata yang maqsur (وقفت على المقصور), apabila tidak ditanwin, maka diwaqafkan, contoh: جاء الفتى dan apabila tanwin, maka tanwinnya dibuang dan cara membacanya tetap menggunakan vokal /a/ tanpa merubah susunan kalimat, contoh: جاء فتى ورأيت فتى , sehingga mewaqafkannya tanpa tanwin.

7.    Mewaqafkan ta’ al-ta’nist al- marbu;thoh (وقفت على تاء التأنيث المربوطة), seperti فاطمة وطلحة, maka waqafnya berupa ha’ dan dibaca فاطمه وطلحه .

8.    Mewaqafkan ta’ al-ta’nist al-mabsu;thoh (وقفت على تاء التأنيث المبسوطة), apabila huruf tersebut bersambung dengan al-fi;lu al-ma:dhi maka mewaqafkannya dengan ta’ sakinah, seperti هي.

Contoh: ذهبت وجلست

Hukum mewaqafkan kata yang berharakat/ yang vokal

Hukum mewaqafkan atau yang berharakat/ yang vokal yaitu sebagai berikut.

1.      Mewaqafkannya dengan sukun.

2.      Mewaqafkan dengan huruf yang geminasi. Contoh : هذا خالدّ , قرأت المصحفّ  kecuali apabila konsonan terakhirnya adalah hamzah atau huruf  illah atau jika didahului dengan huruf konsonan atau mati.

3.      Mewaqafkan dengan dengan memindah vokal akhir ke vokal sebelumnnya. Contoh يجدر بك الصَبُرْ, عليك بالصَبِر karena huruf vokalnya berupa fathah  جَعْفَر, تَعَّوَدِ الصَبْرَ

Waqaf dengan Ha’ 

1.      Apabila mewaqafkan verba imperfektif (fiil mudhari’) dengan jenis mu’tal akhir  baik dalam bentuk nasb atau rafa’  maka diucapkan sebagaimana mestinya tanpa ada perubahan tetapi apabila  dalam bentuk  jazm maka dapat diucapkan:

·         لم تَمْشْ menjadi لم تَمْشِهْ

·         لم تَدْعْ  menjadi  لم تَدْعُه

·         لم تخْشْ menjadi  لم تخْشَه

2.      Apabila dalam  kalimat bentuk verba imperartif (fiil amr) hanya terdiri dari satu huruf maka ditambahkan  dengan ha’ sakth

Contoh:

  • فِ diucapkan menjadiفِه
  • قِ diucapkan menjadi قِهْ
  • عِ diucapkan menjadi عِهْ

3.      Apabila mewaqafkan (istifham) dalam kalimat yang berposisi majrur maka maka konsonan alif tersebut dibuang.

Contoh:

·         حتى ما تسكتmenjadi  حتا م تسكت

·           على ما عولت menjadi  علا م عولت

Apabila ma istifhamiah dalam kalimat yang majrur karena idhofah maka wajib mewaqafkannya dengan ha’.

Contoh:   مجيء ما dibaca مجيءمه

4.      Mewaqafkan huruf mabni vokal مبني على حركة  maka dapat diwaqafkan dengan konsonan ha’.

contoh:

·         رُبَّ  menjadi ربه

·         لعل menjadi لعله

·         منذ menjadi منذه

 

  1. DAFTAR RUJUKAN

Al Ghollayaniy. 2007.Jami’ud Durus. Beirut: Daarul Fikr

Kholisin dan Hanafi, Yusuf. 2007. Bahan Ajar Fonologi. Malang: FS UM

Kholisin. 2005. Pola Asimilasi dalam Bahasa Arab: Kajian Morfofonemis Asimilasi dalam Al Qur’an. (online) http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/pdf. diakses 12 April 2011.

Syahin, Shobur. 2007. Al Minhaj Asshouti Lilbinyatil Arabiy. Beirut: Muassasatur Risalah

Sirhaan, Muhammad. Tanpa tahun. Fiqhullughoh Ilmu Bahasa Arab. Terjemahan oleh Hasyim Asy’ari.  1956. Semarang: IKIP SEMARANG PRESS.

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa (Semantik)

SEJARAH SASTRA PADA ZAMAN ABBASIYAH