SEJARAH SASTRA PADA ZAMAN ABBASIYAH
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Menyebarnya
sastra arab sangat erat kaitannya dengan bersinarnya islam secara luas ke
berbagai belahan dunia terutama pada abad ke-7 hijriah, hal ini dikarenakan ia
adalah bahasa Al-Quran yang mulia. Bahasa yang indah ini menyebar ke berbagai
penjuru timur dan barat, sehingga sebagian besar peradaban dunia pada masa itu
sangat terwarnai oleh peradaban Islam. Mereka yang berperan mengembangkan
sastra arab pada masa kejayaan islam berasal dari berbagai suku bangsa, diantara
mereka berasal dari Jazirah Arab, Mesir, Romawi, Armenia, Barbar, Andalusia dan
sebagainya, walau berbeda bangsa namun mereka semua bersatu diatas Islam dan
Bahasa Arab, mereka berbicara dan menulis karya sastra serta berbagai kajian
keilmuan lainnya dengan Bahasa Arab .
Dan
tidaklah Allah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran melainkan karena
ia adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.”(Yusuf
: 2). Allah SWT juga berfirman, “Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar
diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam, dia dibawa turun oleh Ar ruh Al-Amin
(Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara
orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas“(Asy
Syu’ara:192-195).
Allah
juga berfirman “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia
supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon
yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak
dapat tetap (tegak) sedikitpun”.
Pembahasan
ini mencoba untuk membangkitkan semangat para generasi muda islam untuk
mengkaji kembali kebudayaan islam yang agung dan indah ini, kebudayaan yang
pernah memimpin dunia dan mampu menyentuh bagian hati manusia yang paling dalam
dengan cahaya imannya menjadi penawar bagi jiwa yang luka, menghidupkan kembali
hati yang mati. Oleh karena itu, kami akan memaparkan makalah yang berisi
tentang sejarah sastra pada Zaman Abasiyah khususnya, karena kelompok
sebelumnya telah membahas sejarah sastra pada zaman sebelumnya.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana keadaan sastra
pada zaman Bani Abasiyah ?
1.2.2
Bagaimana kekhususan
sastra pada zaman Bani Abasiyah ?
1.2.3 Siapa sastrawan-sastrawan pada zaman Bani
Abasiyah ?
1.3
Tujuan
1.3.1
Menjelaskan keadan sastra pada zaman
Bani Abasiyah.
1.3.2 Menyimpulkann
kekhususan sastra pada zaman Bani Abasiyah dibandingkan dengan sastra di
zaman-zaman sebelumnya.
1.3.3 Menjelaskan
sastrawan-sastrawan pada zaman Bani Abasiyah beserta karya sastranya.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1
Keadaan Sastra pada Zaman Bani Abasiyah
Zaman
Bani Abbasiyyah dimulai dengan pemerintahan Abu al-Abbas as-Saffah, yaitu tahun
132H, dan diakhiri pada tahun 656H yang mana pada tahun ini jatuhnya Kota
Baghdad di tangan orang-orang Mongol. Kota Baghdad dikenal dengan sebagai madinat
al-salam (kota damai). Saat itu kekhalifahan Arab semakin kuat dan
kebudayaan islam semakin semarak. Baghdad menjadi campuran antara bangsa Arab
dengan Persia, Aramea, Yunani, India.
Masa
Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah
‘’The Golden Age’’. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan,
baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah
berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya
penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian
yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai
inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi
imperium besar Bani Umayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil
lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah
yang besar.
Zaman ini berbeda dengan Zaman Bani
Umayyah karena pada zaman ini masyarakatnya lebih terbuka. Banyak diantara
anak-anak mereka yang menikah dengan orang-orang Persia dan mau mengangkat
orang-orang Persia menjadi kepala daerah, menteri kerajaan atau panglima
tentara. Dengan adanya peristiwa seperti ini akhirnya tak tampak lagi perbedaan
antara mereka, baik dalam hal adat istiadat maupun dalam perilaku kehidupan
sehari-hari. Dengan adanya percampuran ini, sangat berpengaruh dalam kehidupan
sosial, bahasa dan sastra mereka.
Diantara pengaruh tersebut ada
banyak kekeliruan atau kesalahan di dalam bahasa Arab. Orang-orang Persia,
Romawi, Turki dan Barbar yang masuk islam tidak dapat mengucapkan bahasa arab
seperti orang orang Arab sehingga terjadilah kekeliruan dalam membacanya.
Pada Zaman pemerintahan Harun
al-Rasyid ada sebuah biro penerjemahan yaitu al-Hikmah yang mana para
penerjemah didorong untuk menerjemahkan
buku berbahasa Persia, India ke dalam bahasa Arab. Sehingga terjadi penggoyahan
kosa kata yang berisi ungkapan tentang ilmu, seni dan sastra.
Selain sebagai pusat pemerintahan,
Baghdad menjadi pusat perkembangan sastra, ilmu pengetahuan, dan seni. Ada yang
menyebut sebagai pasar tempat ilmu dan seni dijual. Para khalifah sangat
mendukung aktivitas-aktivitas tersebut, mereka sangat senang dengan orang-orang
yang terpelajar, seperti sastrawan, filosof atau ilmuwan. Kesustraan Arab juga
dipengaruhi oleh kebudayaan Persia, Helenisme dan Aramea. Pengaruh ini datang
dari pusat-pusat kebudayaan lama di Irak dan Persia.
Tak dapat disangkal lagi bahwa
kemakmuran suatu bangsa akan membawa pengaruh yang besar dalam perkembangan
sastra pada bangsa tersebut. Ketika bangsa arab mencapai puncaknya yaitu pada
Zaman Bani Abbasiyyah perkembangan sastra semakin maju dan pesat secara
otomatis.
Puisi mengalami perkembangan yang
amat pesat dikarenakan adanya dorongan dari para khalifah dan para pemimpin
yang berkuasa pada saat itu, seringkali ditemukan tema-tema yang
mengagung-agungkan kedudukan, kekuatan dan kemuliaan para khalifah. Adanya gerakan
penerjemahan yang banyak menghasilkan pemikiran filsafat ke dalam puisi-puisi
mereka, seperti dalam puisi Abu Tamam, Al-Muntanabbi dan Abu A’la al-Ma’ary.
Adanya taman-taman yang indah, lengkap dengan air mancur di tengah-tengahnya,
istana-istana yang besar dan lain-lain.
Pada zaman ini, kesusastraan Arab
juga berkembang di Andalusia. Negeri Andalusia menyerupai sebuah pulau.
Letaknya di sebelah barat daya Eropa. Kecuali sebelah timur lautnya, semuanya
dikelilingi oleh laut. Orang-orang muslim menaklukan Andalusia pada tahun 711
M.
2.2
Kekhususan Sastra pada Zaman Bani Abasiyah
Pada
Zaman Abasiyah (zaman keemasan/the golden age) tidak hanya pada segi sosial
dan politik yang berkembang, namun bidang lainnya juga berkembang termasuk
sastra. Dan salah satu ciri khas kesusastraan zaman ini adalah tak sedikit pula
yang masih menggunakan bentuk dan tema yang lama.
Tema
puisi pada Zaman Abasiyah ini sama dengan pada zaman sebelumnya, tapi ada juga
tema yang baru, yaitu zuhdiyyat (zuhud), khamriyyat (minuman keras), thardiyyat
(perburuan), dan lain-lain. Adapun tema khamriyat
digunakan untuk memberi peringatan dan informasi tentang keharaman khamr pada
masa tersebut. Banyaknya ilmu dari Yunani, India, dan sastra dari Persia yang
diterjemahkan orang-orang Abbasiyyah berpengaruh besar dalam pemikiran
filsafat, pandangan politik dan keilmuan para penyair. Tema fakhr yang pada Zaman
Jahiliyah dipergunakan untuk membanggakan suku dan kehormatannya, pada zaman
ini fakhr digunakan penyair untuk
membanggakan diri, kehidupan, dan perasaannya sendiri. Tema zuhdiyyat ditulis
oleh Abu al-Atahiyyah dan puisi tasawuf ditulis oleh Ibn Faridh.
Pada zaman ini beberapa penyair
menghilangkan bagian awal qasidah dan ithlal (sisa reruntuhan rumah). Mereka
cenderung memulai qasidahnya dengan diskripsi tentang istana dan musim semi.
Mereka menjaga hubungan antara bagian qasidah tersebut dan susunan strukturnya.
Sementara itu jenis prosa khitabat
(khutbah) digunakan oleh pemerintah untuk mengajak masyarakat tetap tenang,
karena masih dalam masa transisi dari Masa Bani Umayyah ke Bani Abasiyah.
Selain itu, oleh para mubaligh prosa ini digunakan untuk menyampaikan
ajaran-ajaran agama.
Banyak sastrawan yang masih
menggunakan prosa jenis ini sebagai sarana pengungkapan ide dan perasaannya. Banyaknya
orang yang punya perhatian terhadap agama islam, sehingga prosa jenis ini dapat
digunakan sebagai sarana dakwah ajaran mereka. Mereka berlomba untuk
menyampaikan pandangan-pandangan mereka agar dapat memuaskan masyarakat melalui
pidato.
Ciri-ciri pidato pada zaman ini
adalah gaya sederhana, kata-katanya mudah dimengerti, penggunaan kalimat yang
panjang dan pendek seimbang, kadang-kadang kalimatnya bersajak, mengutip
ayat-ayat al-Qur’an atau puisi-puisi Arab yang baik. Isi khutbah pada zaman itu,
selain berisi ajakan untuk berpegang teguh pada agama, juga anjuran agar patuh terhadap khalifah atau
pemimpin, seruan pada tentara agar bangkit, sambutan untuk para tamu, dan juga
berisi peringatan,ancaman, atau janji-janji.
Salah satu contoh pidato pada zaman
ini ialah khutbah Abu Abas as-Saffah ketika diangkat menjadi khalifah.
"ازَعْمتْ السيّئةُ أنّ غيرنا أحق بالرّياسة والخلافة
منّا.....بم ولم أيّها النّاس ؟ وهدى الله الناسَ بعد
ضلالهم....................."
Khutbah ini adalah pidato politik
pertama yang disampaikan oleh Abu al-Abbas As-Saffah pada awal massa
pemerintahannya di masjid Kuffah. Dia adalah khalifah Bani Abbasiyyah pertama,
nama lengkapnya adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas.
Selain sebagai khalifah dia juga seorang cendikiawan dan sastrawan. As-Saffah memulai pidatonya dengan membaca hamdallah
kepada Allah SWT, sholawat Nabi Muhammad SAW, lalu menyebutkan keutamaan Bani
Abbasiyyah, yang diperkuat dengan, membacakan salah satu ayat dari al-Qur’an
al-Karim yang menunjukkan tentang kemuliaan ahlu al-bait, yaitu: qullaa
‘as’alukum ‘alayhi ajran ‘illaa al-mawwadata fi al-qurba (Katakanlah: aku tiada
meminta upah atau gaji kepadamu atas seruan ini, kecuali untuk berkasih sayang
dalam kekariban) (Asy-Syura, ayat 23).
Akan
tetapi prosa jenis ini hanya berkembang pada masa zaman Abbassiyyah saja.
Setelah zaman berubah, sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Khutbah tak
lagi mempengaruhi jiwa tentara, karena tak banyak yang mengerti bahasa arab
lisan dengan baik. Oleh Karena itu, khutbah digantikan dengan kitabah (tulisan).
Korespondensi
mempunyai kedudukan yang amat penting pada zaman ini, karena tugas-tugas
pemerintahan lebih banyak menggunakan tulisan. Korespondensi berkembang
disebabkan dukungan dari para kholifah dan
para pemimpin dan adanya perhatian terhadap tradisi tulisan dan adanya
penerjemahan-penerjemahan.
2.3
Para Sastrawan pada Zaman Bani Abasiyah dan Karya Sastranya
Masa Bani Abbasiyah sering
disebut-sebut sebagai Masa Keemasan Sastra Arab. Karena Islam juga eksis di
Andalusia (Spanyol), maka tidak ayal lagi kesusastraan Arab juga berkembang
disana. Pada zaman Harun Al-Rasyid, berdiri Biro Penerjemahan Darul Hikmah.
Namun hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada masa ini banyak terjadi
kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa
Arab dengan bangsa ajam (non Arab).
Gaya
pertengahan tidak ketinggalan zaman secara tiba-tiba. Sejumlah penulis besar
tetap mengikuti gaya pertengahan ini meskipun gaya saj’ baru sudah mendapat dasar
di sekitar mereka. Saj’ terdiri dari prosa yang frase-frasenya berirama dalam
kelompok dari dua atau lebih bagian. Syarat-syaratnya antara lain adalah
kata-katnya harus indah dan merdu, tiap frase beriramanya mengandung makna yang
berbeda, frase beriramanya memenuhi persyaratan tawazun, frase sesudahnya harus
selalu lebih pendek dari pada frase sebelumnya. Badi’ di lain pihak, yang
mengandung saj’ dan lain-lain, dapat menjadi banyak bentuk. Sebagaian ahli
sastra menyebutkan 14 ragam badi’dan sebagian lagi menyebutkan dua kali lipat
dari itu atau lebih. Badi’ terdiri dari penciptaan frase yang identik dalam
struktur suku kata, terkadang dalam bentuk huruf tanpa tanda dikritikalnya,
tetapi berbeda dalam makna. Contoh terbaik saj’ dan badi’ hádala seperti
berikut:
1.
Korespondensi kekhalifahan
Korespondensi
kekhalifahan dipercayakan kepada dewan atu sekertaeis istana. Penulis terkenal
anatara lain: Abu Al Fado Muhammad bin Al Amid (w 360 H/ 970 M), Abu Ishaq Al
Shabi (w 384 H/ 994 M), Al Qadli Al Fadhil (596 H/ 1200 M).
2.
Esai sastra
Esay
sastra disusun disusun penulisnya untuk melukiskan perbincangan, melaporkan
pidato, menuturkan kisah, atau menguraikan tema keislaman, moral, atau
kemanusiaan. Yang termashur antara lain Risalah Al Ghufron (pengampunan) yang
ditulis oleh Abu Al A’la Al Ma’arri (w 449H/ 1059M), yang melukiskan statu
perbincangan imajiner dengan penghuni surga dan penghuni neraka. Rízala ini
memprakarsai gaya tulisan yang segera tersebar sampai ke Eropa di mana Dante
melahirkan Divina Comedia-nya yang meniru risalah ini.
3.
Maqamat
Badi
al-Zaman al-Hamadzani dikenal sebagai pencipta maqamah, sejenis anekdot
dramatis yang substansinya berusaha dikesampingkan oleh penulis untuk
mengedepankan kemampuan puitis, pemahaman dan kefasihan bahasanya. Sebagai
contoh, kisah-kisah bebahasa Spanyol dan Italia yang bernuansa realis atau
kepahlawanan memperlihatkan kedekatan yang jelas dengan mahqamah Arab.
Tidak
lama sebelum pertengahan abad ke-10, draf pertama dari sebuah karya yang
kemudian dikenal dengan Alf Laylah wa Laylah (Seribu Satu Malam) disusun di
Irak. Ini adalah karya Persia klasik, berisi beberapa kisah dari India.
Karakteristiknya yang beragam telah mengilhami lahirnya ungkapan konyol para
kritikus sastra modern yang memandang kisah “Seribu Satu Malam” sebagai
kisah-kisah Persia yang dituturkan dengan cara Buddha oleh ratu Esther kepada
Haroun Alraschid di Kairo selama abad ke-14 Masehi. Kisah ini menjadi begitu
populer di kalangan masyarakat Barat, karena telah diterjemahkan dalam berbagai
bahasa di belahan bumi Eropa serta pencetakan berulang-ulang. Selain
prosa-prosa tersebut, juga terdapat beberapa puisi klasik, contohnya Abu Nawas
yang mampu menyusun lagu terbaik tentang cinta dan arak.
Siapa
yang tidak kenal dengan cerita Aladin dan Lampu Wasiat, Ali Baba dengan Empat
Puluh Penyamun, dan Sindbad si Pelaut. Apalagi sejak ditayangkan secara visual
di layar kaca ataupun layar perak produksi Holywood. Semuanya pasti setuju
bahwa kisah itu diambil dari Kisah Seribu Satu Malam. Kisah yang amat terkenal
dari abad-abad lampau hingga saat ini. Tapi tahukah Anda bahwa kisah itu adalah
cuma terjemahan saja dan bukan buatan sastrawan-sastrawan ternama pada puncak
kejayaan Baghdad?
Saat
itu Kekhalifahan Abbasiyah berada pada puncak tangga tamadun. Politik, agama,
ekonomi, sosial, budaya, dan di segala bidang lainnya mengalami kemajuan pesat
daripada masa-masa sebelumnya. Salah satunya adalah di bidang sastra. Berbeda
dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik
puncak dari berkesenian ini dikarenakan pula Bani Umayyah
adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman
Bani Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku
sastra, riwayat, hikayat, dan drama.
Bermunculanlah
para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik puisi maupun prosa. Dari yang ahli sebagai
penyair (seperti Abu Nuwas), pembuat novel dan riwayat (asli maupun
terjemahan), hingga pemain drama.
Di
antara penulis yang terkenal pada zaman ini adalah:
1. Ahmad
bin Yusuf ( Penulis Surat pada masa Al-Ma’mun, wafat 828 M)
2. Sahl
bin Harun ( Kepala Biro Penerjemah Baitul Hikmah pada masa Al-Ma’mun, wafat 835
M)
3. Amru
bin Mas’adah (Menteri pada masa Al-Ma’mun,
wafat 832 M)
4. Jahiz
( Iluwan dan Sastrawan pada masa Abbassiyyah, wafat 828 M)
5. Ibn
AL-‘Amid (Menteri asal Persia, wafat 365
M)
6. Al-Qodi
Al-Fadhil (Menteri Sholahuddin Al-Ayyubi, yang terkenal dengan tulisan
sajaknya. Wafat 1199M)
Pada
zaman Bani Abbasiyah, surat menyurat menjadi semakin penting dalam rangka
penyelenggaraan sistem pemerintahan yang semakin kompleks. Dalam genre prosa,
muncul prosa pembaharuan
(النثر التجديدي) yang ditokohi oleh
Abdullah ibn Muqaffa dan juga prosa lirik yang ditokohi oleh antara lain
Al-Jahizh. Salah satu prosa terkenal dari masa ini ialah Kisah Seribu Satu
Malam (ألف ليلة و ليلة). Dalam dunia puisi
juga muncul puisi pembaruan yang ditokohi oleh antara lain Abu Nuwas dan Abul
Atahiyah.
Jenis
prosa tulisan pada masa ini beraneka ragam. Selain ada khitabah (pidato),
kitabah (korespondensi), juga ada tawqi’at, qishah
dan maqamat. Mengenai risalah (korespondensi) telah ada sejak zaman Khulafaur
Rosyidin.
Tawqi’at berisi tentang pandangan ringkas raja atas pemimpinnya.
Tawqi’at sudah ada sejak zaman Khulafaur Rosyidin, terutama pada zaman Abu
Bakar Ash-Shidiq dan Bani Umayyah, tetapi prosa ini mencapai popular pada masa Abbassiyyah. Kholifah yang pernah membuat Tawqi’at di
antaranya: Abu Al-Abbas
As-Shaffah, Abu
Ja’far Al-Manshur, Harun Al-Rasyid, Al-Ma’mun, Al-Jahiz.
Adapun sastrawan-sastrawan yang termashur pada Zaman
Abasiyah, antara lain :
§
Jahiz
Jahiz
adalah seorang cendekiawan dan sastrawan pada zaman Abbassiyyah. Jahiz sangat
suka membaca, sehingga
dia rela membayar toko buku untuk
bisa berdiri dan membacanya di dalamnya. Jahiz menyukai hal-hal yang lucu dan
aneh. Salah satunya adalah Kitab Al Hayawan, Kitab Bukhalaa, dan Al Bayan wa
Tabyiin. Pada akhir hidupnya, Jahiz terserang lumpuh sehingga ia tiak bisa
kemana-kemana. Akan tetapi bnyak yang
datang ke rumahnya untuk menimba ilmu dan sastranya.
Berikut ini adalah salah satu tulisan Jahiz tentang buku
:
الكتاب
هو الجليس الذي لا يطريك، والصديق الذي لا يغريك، والرفيق الذي لا يملك، والجار
الذي لا يستبطئك، والصاحب الذي لا يعاملك بالمكر، ولا يخدعك بالنفاق، ولا يحتال لك
بالكذب.
Dalam
tulisannya dijelaskan bahwa Al Jahiz sangat gemar membaca, sehingga banyak
sekali manfaatnya. Ia memberikan nasehat pada orang-orang agar berperilaku
seperti buku, karena buku merupakan teman yang tak pernah memuji secara
berlebihan, tak pernah menghasut , dan tak pernah membosankan. Buku adalah
tetangga yang tak pernah merasa terbebani, teman tak suka menipu, dan tak suka
berbohong.
§ Ibnu Al-Muqoffa’
Ibnu
al-Muqoffa’ hidup dan tumbuh pada saat terjadi pergolakan dan konfilk di
masyarakat. Saat itu terjadi peralihan kekuasaan dari Dinasti Umayah ke tangan
Dinasti Abbasiyah, yang ditandai dengan terjadi banyak konflik. Maka pada saat
itu keadaan politik di dunia Islam carut-marut dengan kondisi tersebut.
Kehidupan umat Islam dan masyarakat Arab terus mengalami pergolakan yang
berkepanjangan sehingga akhirnya Dinasti Abbasiyah dapat meraih tampuk
kekuasaan dari Dinasti Umayyah. Ibnu al-Muqoffa’ dilahirkan di sebuah kampung
dekat Shiraz, Persia, sekitar tahun 80 H. Ia dilahirkan dari dua darah
kebudayaan. Ayahnya, Dzazuwih berdarah Persia dan ibunya berasal dari keturunan
bangsa Arab. Maka dari sinilah ia banyak mewarisi dua kultur tersebut. Sehingga
ia bertekad untuk menjembatani dari dua peradaban tersebut, yakni peradaban
Persia dan Arab.
Karya-karya
Ibnu al-Muqoffa’ sangat banyak namun dikatakan bahwa karyanya yang sampai saat
ini ada, hanya berjumlah lima buah yakni:
1. Al-Adab
al-Shagir atau adab kecil
2. Al-Adab
al-Kabir atau adab besar
3. Risalah
Al-shahabat atau uraian tentang persahabatan
4. Al-Yatimah
Fi Taat al-Sulthan
5. Kalilah
Wa dimnah, Namun dari sekian banyak karyanya yang berupa terjemahan, Kalilah Wa
Dimnah begitu masyhur sampai saat ini. Karyanya ini diterjemahkan dari Bahasa
Persia ke Bahasa Arab. Walaupun karyanya tersebut adalah berupa terjemahan dari
Baidaba, namun Ia tidak mengubah isi yang terkandung di dalam karya aslinya. Ia
hanya menyisipkan beberapa cerita-cerita dalam karya tersebut.
§ Al Busyiri
Al
Busyiri dengan nama asli Muhammad bin Said bin Hammad As Sanhaji yang
dilahirkan di Desa Dallas dekat kota Bani Suwaif di Mesir pada tahun 608 H dan
Shofiyudin al-Hilli dengan nama asli Abdullah Aziz bin Ali dilahirkan di kota
Hallah (tepi Furat) pada tahun 677H, merupakan dua penyair besar pada zaman
keruntuhan Abasiyah. Hal ini dibuktikan dengan karya besarnya qasidah Burdah
karya al-Busyiri tentang pujiannya kepada Nabi besar Muhammad SAW yang hingga
kini masih sering dilantunkan dan Shofiyidin al-Hilli dengan puisi-puisinya
yang dianggap karangan terbaik sesudah al-Busyairi dan bahasa dalam syairnya
sangat mudah sehingga banyak orang yang menjadikannya pantun. Dan juga karena
kelihaiannya dalam menciptakan sya’ir madh kepada Raja Ibnu Kholawwun, beliau
diangkat menjadi juru tulisnya.
Unsur-Unsur
syi’ir madh dalam qosidah burdah karya al-Busyairi, sebagai berikut: dari segi 1.) Rasa (athifah) ditekankan
pada kekaguman sang penyair pada jiwa dan raga Nabi Muhammad SAW. 2) imajinasi (al-Khoyal), syi’ir tersebut
dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu
berkisar tentang fenomena alam. 3) gagasan (al-fikroh), gagasan pada syair
tersebut mengungkapkan keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW dan kebesaran beliau
sebagai seorang pemimpin dua jenis makhluk, manusia dan jin. 4) Bentuk
(Shurah), terdapat satu tasbih, yaitu tasybih tamsil. Huruf qowafinya arrawi mimiyah yaitu akhir bait berupa huruf mim (م), menggunakan bahr basith yaitu mengikuti
wazan مستفعلن dan فاعلن.
وقال
البشيري في البردة يمدحه النبي محمد صلى الله عليه وسلم :
محمد
سيد الكونين والثقلين والفريقين من
عرب ومن عجم
فهو
الذي تم معناه وصورته ثم اصطفاه
حبيبا بارئ النسـم
منزه
عن شريك في محاسنه وجوهر الحسن فيه
غير منقسم
اعيا
الورى فهم معنا فليس يرى للقرب
والبعد منه غير منفحم
كالشمس
نظهر للعينين من بعد صغيرة وتكل الطرف
من امـم
وكيف
يدرك في الدنيا حقيقته قوم
نيام تسلوا عنه بالحلـم
فمبلغ
العلم فيه انه بشــر وانه
خير خلـق الله كلهـم
Artinya:
Nabi Muhammad adalah
pengguhulu dua alam (Dunia dan akhirat)
Penghulu jin dan manusia,
penghulu dua jenis bangsa (arab dan ajam)
Nabi Muhammad telah
sempurna makna serta rupanya
Kemudian Tuhan pencipta
makhuk memilihnya menjadi kekasihNya
Tidak seorangpun dapat
menyamainya dalam keindahan dan kebaikannya
Permata indah itu hanya
pada dirinya dan tidak terbagi pada yang lainnya
Tidak suatu makhlukpun
yang mengerti akan hakikat Nabi Muhammad
Namun, (karena besarnya
kecintaan beliau kepada kami) sehingga setiap orang yang jauh maupun dekat
mengagumi beliau.
Seperti matahari yang
kelihatannya kecil dari jauh oleh dua mata
Tapi tidak ada mata yang
tidak silau memandanginya
Bagaimana akan mengerti
hakikat beliau di dunia ini
Bagi orang-orang yang
menikmati tidur tenggelam dalam mimpi
Memang dari sudut pandang
lahir, beliau adalah seorang manusia
Tapi dari sudut makna,
beliau adalah makhluk pilihan.
§ Shofiyudin al-Hilli
Shofiyudin
al-Hilli juga sebagai orang pertama yang menciptakan syi’ir madh kepada Nabi
Muhammad yang paling lengkap dari segi ilmu badi’ sehingga beliau dimasukkan
sebagai imam ilmu badi’.
Unsur-unsur
syi’ir madh kepada Raja Sholeh karya Shofiudin al-Hilli, sebagai berikut: dari segi 1.) Rasa (athifah), Rasa
ditekankan pada kekaguman sang penyair pada ketegaran Raja Sholeh dalam segala
urusan. Terutama penyair terkagum-kagum dengan ketepatan beliau dalam
mendermakan hartanya. 2) imajinasi (al-Khoyal), Unsur imajinasi syi’ir tersebut
dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu
berkisar tentang fenomena alam. 3) gagasan (al-fikroh), gagasan pada syair
tersebut mengungkapkan tentang ketegaran beliau dalam memimpin dan
kedermawanannya dalam mendermakan hartanya 4) Bentuk (Shurah), terdapat dua
tasybih yang keduanya merupakan tasbih tamsil, huruf qawafinya Al-waslu,
menggunakan bahr basith.
قال
صفي الدين الحلي من قصيدة نحرض فيها السلطان الصالح على الإحتراز من المغول ،
ويمدحه :
لا يمتطي المجد من
لم يركب الخطرا ولا ينال العلا مـن قـدم الحـذرا
ومن
أراد العلا عفوا بـلا تعـب قضى
ولم يقض من إدراكها وطـرا
لا
بد للشهد مـن نحـل يمنعـه لا
يجـني النفع من لم يحمل الضررا
وأحزم
الناس من لو مات من ظمأ لا يقرب
الورد حتى يعرف الصدرا
وأعزر
الناس عقـلا من إذا نظرت عيناه
أمرا، غـدا بالغير معتبـرا
فقد
يقال عثار الرجل ان عـثرت
ولا يقال عثــار الرأي إن عثرا
ولا
ينال العلا إلا فني شرفـت خلاله فأطاع الدهـر ماأمـرا
كالصالح الملك
المرهوب سطوته فلو توعد قلب الدرلا نفـطـرا
كالبحر
والدهر في يومي ندى وردى والليث والغيث
في يومي وغى وقرى
لاموه
في بذله الأموال قلت لهــم هل
تقدر السحب ألا ترسل المطرا
Artinya:
Seseorang tidak akan
mendapat keagungan tanpa mengarungi mara bahaya
Dan seseorang tak akan
mendapatkan kemuliaan jika mengedepankan ketakutan
Orang yang mengharapkan
kemuliaan tidak akan pernah mendapatinya tanpa kelelahan
Dan tidak akan pernah
memperoleh harapannya tanpa berusaha
Orang-orang akan selalu
mengikat dirinya dengan rindu meskipun mati memisahkannya
Mereka tidak akan bisa
mendekati para pasukan tanpa mengetahui pemimpinnya
Orang-orang akan
memulyakan akal jika mereka melihat suatu perkara
Dan esok akan menjadi
ternama dari sesamanya
Seseorang akan dikatakan
hina apabila ia berbuat hina
Namun tidak akan
dikatakan hina saat hina dalam berpendapat
Seseorang tidak
mendapatkan kehormatan tanpa memperoleh kebaikan
Maka tunduk dengan masa
apa yang dipimpinnya
Sebagaimana raja Sholeh
yang ditakuti kebesarannya
Jika hati beliau sudah
berjanji, maka tak akan mengingkarinya
Laksana sungai besar dan
waktu yang menyapa dan pergi dalam hariku
Dan tumbuhan yang rimbun
serta hujan yang gaduh dan menggenang
Besarnya dalam
mendermakan hartanya hingga dikatakan oleh mereka
Tidakkah ditakdirkan awan
kecuali untuk mengirimkan hujan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Zaman Bani Abbasiyyah dimulai dengan pemerintahan Abu
al-Abbas as-Saffah, yaitu tahun 132H, dan diakhiri pada tahun 656H yang mana
pada tahun ini jatuhnya Kota Baghdad di tangan orang-orang Mongol. Zaman
Abasiyah disebut dengan zaman
keemasan (the
golden age), tidak hanya pada segi sosial dan politik yang
berkembang, namun bidang lainnya juga berkembang termasuk sastra.
Karya-karya sastra yang berkembang pada saat itu sangat
banyak sekali yang temanya berbeda dengan tema yang ada pada zaman-zaman
sebelumnya, walaupun masih ada beberapa yang sama. Pada masa ini muncul banyak
sastrawan diantaranya : Jahiz, Shofiyudin al-Hilli, Ibnu Al-Muqoffa’, Al-Bisyri, dan lain-lain.
3.2 Kritik dan Saran
DAFTAR RUJUKAN
Sutiasumarga, Males. 2001. Kesusastraan Arab:Asal Mula
dan Perkembangannya. Depok: Zikrul Hakim.
Sugiyono, sugeng (Eds). 1993. Rampan Buku:Bahasa
Sastra dan Kebudayaan Islam.fakultas Adab IAIN Sunan Kalijogo.
المكتبة التجارية للطباعة والنشر والتوزيع
:بيروت .المفيد 19768 . جوزف الهاتم
http://tarikh-adab-Prosa-Pada-Masa-Bani-Abasiyah.com
http://tarikh-adab-Perkembangan-Sastra.com
http://tarikh-adab-Penelitian-SASTRA-Bandingan.com
Comments
Post a Comment