Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa (Semantik)

Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa

A.    Makna Idiomatis

Idiom adalah satuan-satuan kebahasaan (kata, frase, dan kalimat) yang maknanya tidak dapat diketahui dari makna leksikal unsure-unsurnya maupun dari makna gramatikal satuan tersebut.

Makna Idiomatis  adalah makna sebuah satuan bahasa (entah kata, frase, atau kalimat) yang ”menyimpang” dari makna leksikal dan makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna idiom sebuah kata (frase atau kalimat) tidak ada jalan lain selain mencarinya dalam kamus.

Contoh:

تثلّج, تغيّم, تخشّب, تحجّر  mempunyai dasar berupa nomina ثلج, غيم, خشب, حجر

Menurut kaidah gramatikal kata تحجّر ‘menjadi batu’, تخشّب   ‘menjadi kayu’, تغيّم ‘menjadi mendung’, تثلّج ‘menjadi es, keseluruhan kata diatas bermakna menjadi hal yang dikemukakan pada pada bentuk dasar. Akan tetapi beda lagi dengan kata تسوّق  (berasal dari kata dasar berupa nomina سوق), kata tersebut mengalami proses grmatika yang sama dengan keempat kata diatas, akan tetapi kata tersebut tidak memiliki makna ‘menjadi hal yang dikemukakan pada pada kata dasar’. Atau secra singkat, kata تسوّق tidak bermakna menjadi pasar, melainkan bermakna berbelanja’.

            Contoh lain, kata  وسّع berasal dari واسع

فرّح  berasal dari فرح

كبّر  berasal dari كبير

Ketiga kata diatas mempunyai makna mentransitifkan atau menjadikan sesuatu sebagaimana dinyatakan pada kata dasar, akan tetapi beda lagi dengan kata (berasal dari ejektiva مريض). Kata مرّض tidak lain bermakna ‘merawat hal yang ada pada bentuk dasar atau berupaya menghilangkan sesuatu yang dinyatakan pada bentuk dasar.

Contoh yang berupa frase dapat dikemukakan, misalnyaشرب الشجرة , tidaklah bermakna ‘meminum rokok ataupun memasukkan hal dinyatakan pada kata kedua ke dalam perut melalui mulut’. Frase شرب الشجرة berarti ‘mengisap rokok atau merokok(يدخّن). Jadi makna yang terkandung pada kata تسوّق  dan frase مرّض bukanlah makna leksikal atau makna gramatikal, melainkan makna idiomatis.

Idiom dapat dibedakan menjadi dua (Pateda, 2001), yaitu idiom penuh dan idiom sebagian.

1.         Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna.

Contoh: menjual gigi (tertawa keras-keras), membanting tulang (bekerja keras), meja hijau (pengadilan), dsb.

Contoh dalam bahasa Arab:

بيت الخلاء terbentuk dari kata بيت yang makna leksikalnya ‘bangunan tempat tinggal’ dan الخلاء yang makna leksikalnya ‘sunyi, sepi’. Makna leksikal dari setiap kata tidak lagi rumah sepi atau rumah untuk menyepi, akan tetapi bermakna tempat buang hajat.

2.         Idiom sebagian adalah idiom yang masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri

Contoh: daftar hitam (daftar yang berisi nama-nama orang yang dicurigai), Koran kuning (Koran yang seringkali memuat berita sensasi), menunjukkan gigi (menunjukkan kekuasaan)

Contoh dalam bahasa Arab:

رأس المال  mempunyai makna ‘uang awal usaha atau modal’. Frase tersebut terdiri atas unsur رأس ‘kepala atau bagian paling atas suatu makhluk bernyawa’ dan المال ‘harta, kekayaan’. Jadi makna المال sebagai unsure kedua juga masih tampak pada makna konstruksi tersebut secara utuh.

B.        Peribahasa

Peribahasa adalah satuan kebahasaan yang digunakan sebagai perbandingan, tetapi maknanya masih dapat dilacak dari makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya.

Contoh bagai air dengan minyak merupakan satuan yang terdiri atas unsur air ’benda cair sebangsa air minum’ dan unsur minyak ‘benda cair  yang mudah terbakar’. Didalam unsur tersebut, kedua unsurnya masih tetap memiliki makna leksikalnya masing-masing. Tetapi satuan tersebut, justru digunakan sebagai pembanding suatu hal diluar satuan itu sendiri, yaitu keadaan dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur. Dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur disamakan atau dibandingkan dengan air dan minyak yang mempunyai sifat sulit bercampur antarkeduanya.

Contoh dalam bahasa Arab: انّك لاتجني من الشوق  ‘Engkau tidak memetik anggur dari durian’ digunakan sebagai pembanding hal yang ada di luar satuan tersebut, yaitu hasil perbuatan yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Yang menanam durian, akan memetik durian sebagaimana yang menana anggur akan memetik anggur. Berbuat baik akan memperoleh hasil yang baik. Jadi انّك لاتجني من الشوق mempunyai makna ‘hasil perbuatan sesuai dengan perbuatannya’. Makna tersebut dapat dilacak dari makna leksikal unsur-unsur dalam satuan. Satuan tersebut berpadanan dengan satuan BI barang siapa menanam menuai.

Oleh karena peribahasa ini bersifat membandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Kata-kata seperti, bagai, bak, laksana, dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa. Memang banyak juga peribahasa yang tanpa menggunakan kata-kata tewrsebut, namun kesan peribahasanya itu tetap saja Nampak.

Contoh, Tong kosong nyaring bunyinya. Peribahasa tersebut bermakna ‘orang yang tiada berilmu biasanya banyak cakapnya’. Disini orang yang tiada berilmu itu diperbandingkan dengan tong yang kosong. Hanya tong yang kosong yang kalau dipukul akan berbunyi nyaring; tong yang berisi penuh tentu tiada akan berbunyi nyaring. Sebaliknya orang yang pandai, orang yang banyak ilmunya biasanya pendiam, merunduk dan tiada pongah. Keadaan ini disebutkan dengan peribahasa yang berbunyi Bagai padi, semakin berisi, semakin merunduk.Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa

A.    Makna Idiomatis

Idiom adalah satuan-satuan kebahasaan (kata, frase, dan kalimat) yang maknanya tidak dapat diketahui dari makna leksikal unsure-unsurnya maupun dari makna gramatikal satuan tersebut.

Makna Idiomatis  adalah makna sebuah satuan bahasa (entah kata, frase, atau kalimat) yang ”menyimpang” dari makna leksikal dan makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna idiom sebuah kata (frase atau kalimat) tidak ada jalan lain selain mencarinya dalam kamus.

Contoh:

تثلّج, تغيّم, تخشّب, تحجّر  mempunyai dasar berupa nomina ثلج, غيم, خشب, حجر

Menurut kaidah gramatikal kata تحجّر ‘menjadi batu’, تخشّب   ‘menjadi kayu’, تغيّم ‘menjadi mendung’, تثلّج ‘menjadi es, keseluruhan kata diatas bermakna menjadi hal yang dikemukakan pada pada bentuk dasar. Akan tetapi beda lagi dengan kata تسوّق  (berasal dari kata dasar berupa nomina سوق), kata tersebut mengalami proses grmatika yang sama dengan keempat kata diatas, akan tetapi kata tersebut tidak memiliki makna ‘menjadi hal yang dikemukakan pada pada kata dasar’. Atau secra singkat, kata تسوّق tidak bermakna menjadi pasar, melainkan bermakna berbelanja’.

            Contoh lain, kata  وسّع berasal dari واسع

فرّح  berasal dari فرح

كبّر  berasal dari كبير

Ketiga kata diatas mempunyai makna mentransitifkan atau menjadikan sesuatu sebagaimana dinyatakan pada kata dasar, akan tetapi beda lagi dengan kata (berasal dari ejektiva مريض). Kata مرّض tidak lain bermakna ‘merawat hal yang ada pada bentuk dasar atau berupaya menghilangkan sesuatu yang dinyatakan pada bentuk dasar.

Contoh yang berupa frase dapat dikemukakan, misalnyaشرب الشجرة , tidaklah bermakna ‘meminum rokok ataupun memasukkan hal dinyatakan pada kata kedua ke dalam perut melalui mulut’. Frase شرب الشجرة berarti ‘mengisap rokok atau merokok(يدخّن). Jadi makna yang terkandung pada kata تسوّق  dan frase مرّض bukanlah makna leksikal atau makna gramatikal, melainkan makna idiomatis.

Idiom dapat dibedakan menjadi dua (Pateda, 2001), yaitu idiom penuh dan idiom sebagian.

1.         Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna.

Contoh: menjual gigi (tertawa keras-keras), membanting tulang (bekerja keras), meja hijau (pengadilan), dsb.

Contoh dalam bahasa Arab:

بيت الخلاء terbentuk dari kata بيت yang makna leksikalnya ‘bangunan tempat tinggal’ dan الخلاء yang makna leksikalnya ‘sunyi, sepi’. Makna leksikal dari setiap kata tidak lagi rumah sepi atau rumah untuk menyepi, akan tetapi bermakna tempat buang hajat.

2.         Idiom sebagian adalah idiom yang masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri

Contoh: daftar hitam (daftar yang berisi nama-nama orang yang dicurigai), Koran kuning (Koran yang seringkali memuat berita sensasi), menunjukkan gigi (menunjukkan kekuasaan)

Contoh dalam bahasa Arab:

رأس المال  mempunyai makna ‘uang awal usaha atau modal’. Frase tersebut terdiri atas unsur رأس ‘kepala atau bagian paling atas suatu makhluk bernyawa’ dan المال ‘harta, kekayaan’. Jadi makna المال sebagai unsure kedua juga masih tampak pada makna konstruksi tersebut secara utuh.

B.        Peribahasa

Peribahasa adalah satuan kebahasaan yang digunakan sebagai perbandingan, tetapi maknanya masih dapat dilacak dari makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya.

Contoh bagai air dengan minyak merupakan satuan yang terdiri atas unsur air ’benda cair sebangsa air minum’ dan unsur minyak ‘benda cair  yang mudah terbakar’. Didalam unsur tersebut, kedua unsurnya masih tetap memiliki makna leksikalnya masing-masing. Tetapi satuan tersebut, justru digunakan sebagai pembanding suatu hal diluar satuan itu sendiri, yaitu keadaan dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur. Dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur disamakan atau dibandingkan dengan air dan minyak yang mempunyai sifat sulit bercampur antarkeduanya.

Contoh dalam bahasa Arab: انّك لاتجني من الشوق  ‘Engkau tidak memetik anggur dari durian’ digunakan sebagai pembanding hal yang ada di luar satuan tersebut, yaitu hasil perbuatan yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Yang menanam durian, akan memetik durian sebagaimana yang menana anggur akan memetik anggur. Berbuat baik akan memperoleh hasil yang baik. Jadi انّك لاتجني من الشوق mempunyai makna ‘hasil perbuatan sesuai dengan perbuatannya’. Makna tersebut dapat dilacak dari makna leksikal unsur-unsur dalam satuan. Satuan tersebut berpadanan dengan satuan BI barang siapa menanam menuai.

Oleh karena peribahasa ini bersifat membandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Kata-kata seperti, bagai, bak, laksana, dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa. Memang banyak juga peribahasa yang tanpa menggunakan kata-kata tewrsebut, namun kesan peribahasanya itu tetap saja Nampak.

Contoh, Tong kosong nyaring bunyinya. Peribahasa tersebut bermakna ‘orang yang tiada berilmu biasanya banyak cakapnya’. Disini orang yang tiada berilmu itu diperbandingkan dengan tong yang kosong. Hanya tong yang kosong yang kalau dipukul akan berbunyi nyaring; tong yang berisi penuh tentu tiada akan berbunyi nyaring. Sebaliknya orang yang pandai, orang yang banyak ilmunya biasanya pendiam, merunduk dan tiada pongah. Keadaan ini disebutkan dengan peribahasa yang berbunyi Bagai padi, semakin berisi, semakin merund 

Comments

Popular posts from this blog

IBDA:L DAN WAQAF

SEJARAH SASTRA PADA ZAMAN ABBASIYAH