SEJARAH TULISAN ARAB
A. Pendahuluan
Pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, banyak sekali
sahabat- sahabat yang menghafal Al Qur’an wafat di Medan perang. Oleh karena
itu beliau memerintahkan para sahabat untuk membukukan Al Qur’an agar terhindar
dari kepunahan. Di sinilah awal mula sejarah perkembangan tulisan arab dimulai.
Para sahabat mulai menemukan berbagai ide untuk mengembangkan tulisan arab agar
lebih mudah dibaca dan terhindar dari lahn(kesalahan).
Setelah itu lahir pula seni tulisan arab yang mengungkapkan keindahan tulisan
arab. Berikut, akan dijelaskan mengenai seputar tulisan Arab.
B. Sejarah dan Keistemewaan Huruf Arab
Huruf arab merupakan huruf yang ringkas tetapi huruf-huruf latin harus ditulis melantur
sampai tamat contoh nya saja jika kita kita ingin menulis قلم
dengan huruf latin adalah sepert ini :kalamoun. Pada kata ini tulisan
arab hany membutuhkan 3 huruf saja tetapi huruf latin menggunakan huruf .
Itu dari segi keringkasan sedangkan
dari segi keindahan, sudah banyak tokah dunia yang memujui kei dahan tulian
arab diantara raja romawi ketika ia di menirima dari sulaiman ibnu wahab berkatalah sang raja
romawi :”Aku tidak pernah melihat pada orang Arab sesuatu yang lebih indah
daripada bentuk ini ; dan rsa dengki ku tidak pernah ku lemparkan pada mereka
karena keindahan tulisan yang mereka miliki.
Banyak sekali pendapat mengenai asal muasal tulisan arab tetapi pendapat
yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang mengatakan bahwasanya
tulisan arab diadopsi dari suku nabati, ras yang menempati wilayah
utara jazirah arab di negri yordan .Hali ini di buktikan dengan ditemukanya
pahatan-pahatan purbakala oleh kaum orientalis di Ummul Jimal, Bukit Drusce
.diantara pahatan-pahatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Inskrpsi Ummul Jimal
Pahatan ini merupakan tuliasan khat Nabti mutakhir
yang melahirkan
cabang tulisan khufi dibuat pada
tahun 250 M di daerah Ummul Jimal kawasan utara Bukit Druze.
2. Inskripsi Nammarah
Pahatan ini di buat sekitar tahun 328 M di Bukit
Druze, di tulis diatas kuburan Imru Al Qeis.inskripsi ini mencakup 15 baris,
dipaparkan bacaanya oleh Jauwad Ali dalam kitabnya, Tarikh Al’Arab Al Islam
3. Inskripsi Huron
Inskripsi ini ditulis dengan khat
yang mendekati khat Naskhi di buat
sekitar tahun 568 M di tulis di atas gerbang gereja
di kota huron.
Khat Kufi
dan Khat
Tahrir
Kufi dikenal sesuai namanya karena
penyebaranya dari negi kufah bentuknya indah,kering (sering di istilahkan
dengan dry writting), memiliki babanyak sudut dan siku-siku yang kaku, khat
kufi itu terdapat di dalam mushaf Al
Qur’an dan diatas batu nisan . Adapun khat tahrir adalah tulisan lembut
(soft writing) yang elastic dan membulat menurut istilah pengarang kitab Al
Fihrst. Khat ini juaga khat Madani dan banyak juga yang menamai kahat Al Darji.
Teks tertua khat ini pada tahun 22 hijriyah yang berisi transaksi jual
beli.kahat ini jauga di gunakan surat suart dan seluaruh kebutuhan yang
memerlukan pencatatan.
C. Khat Kufi dalam Mushaf-Mushaf Kuno
Khat kufi
yang digunakan di dalam penulisan Mushaf penghujung abad ke 8 Miladiyah
adalah Kufi Ma’il
Khat
Kufi Di Batu Nisan
Beberapa
contoh khat kufi diatas batu nisan :
1. Ditemukan pada bentaeng Ukhaidir, wilayah Karbala merupkan
kufi tertua di irak (64 H/683 M) khat kufi dalm prasasti ini bentuknya masih primitive,
lemah, tidak beraturan, tidak menggoreskan sapuan – sapuan keindahan .
2. Ditemukan pada sebuah prasasti kuburan batu marmar (250
H/863 M) pada masa Daulah Abbasiyah. Kahat kufi pada prasasti ini keteraturan
garis-garisnya dan ujung-ujungnya yang berhias.
D. SYAKAL DALAM MUSHAF AL QURAN
Khot
kufi pada mushaf kuno tidak dibubuhi syakal, hal ini sudah umum terjadi pada
seluruh tulisan arab di zaman jahiliah dan awal islam karena orang arab pada
zaman itu belum membutuhkan pada tanda-tanda seperti itu, dan mereka telah
merasa cukup dengan bahasa arab mereka.
Akan tetapi ketika percampuran
antara orang-orang
arab dengan bangsa asing, lahirlah sebuah generasi yang rusak lidahnya. Maka, mereka
dituntut untuk segera menciptakan kaedah-kaedah gramatika atau nahwu.
Abu Al Aswad Al Du’li adalah
orang yang pertama meletakkan konstruksi ilmu nahwu, atas perintah Amirul Mu’minin Ali Ibnu Abi Thalib. Akan
tetapi, kreasi Abu Al Aswad Al Du’ali ini belum cukup untuk membaca al-qur’an
secara betul. Maka, Ziyad Ibnu Abieh, gubernur basrah, memerintahkan ulang
kepada Abu Al Aswad untuk menciptakan sesuatu yang baru yang bisa mengatur
cara-cara membaca Al-Qur’an dengan betul.
Pada
saat itu, Abu Al Aswad enggan dan bahkan tidak serius menanggapi perintah dari Ziyad.
Akan tetapi, setelah mengetahui kesalahan yang dilakukan oleh utusan Ziyad, Abu
Al Aswad segera menghadap kepada Ziyad dan menyatakan bahwa dia mau menjalankan
perintahnya, dan dia minta ditemani salah satu juru tulis. Kemudian, Abu Al
Aswad menyuruh sang juru tulis untuk mengmbil al qur’an dan cairan tinta yng
beda warnanya. Dan beliau berkata :”apabila engkau melihat aku membuka kedua
bibirku, taruhlah sebuah titik di atas huruf(fathah). Apabila bibirku
kukasrahkan, buatlah satu titik di bawahnya(kasrah). Dan apabila
kumonyongkan(dhammah) buatlah titik di antara ujung huruf. Apabila dengan
dengungan(ghunnah) mengiringi harakat-harakat ini, buatlah dua titik.”
E.
NUKTAH ATAU I’JAM
Usaha penyempurnaan
kedua dalam modifikasi tanda baca ini dapat diselesaikan pada masa khalifah Abdul
Malik Ibnu Marwan di akhir kurun pertama hijriyah atas usaha Yahya Ibnu Ya’mur
dan Nashir Ibnu Ashim(murid Abu al Aswad), dengan pemberian tanda nuktah untuk
menghindarkan dari kesalahan cara membaca yang bisa menyebabkan berubahnya
makna.
Pada
masa ini huruf-huruf diberi i’jam atau nuktah dengan tinta yang warnanya sama
dengan tinta untuk pokok tulisan, karena nuktah atau titik merupakan bagian
dari huruf. Dengan demikian, dapat dibedakan dari nuktah syakal yang ditulis
dengan tinta merah.
Usaha
penyempurnaan ketiga, berhasil dilaksanakan oleh seorang ulama besar, Al Khalil
Ibnu Ahmad Alfarahidi, dimasa permulaan kekuasaan abbasyiah. Ia meletakkan pada
tempat titik garis-garis diagonal pendek di atas dan di bawah huruf sebagai
petunjuk fathah dan kasrah. Untuk dhammah, dibuatkan tanda dari kepala wawu
kecil, apabila huruf ditanwin, tanda-tanda tadi diulang dobel. Untuk sukun
dibuatkan tanda dengan bulatan seperti mim atau kepala jim dari kata jazm,
untuk syiddah dengan kepala sin, untuk hamzah qoth’idengan kepala ‘ain kecil
diletakkan kepada huruf akhir dari kata qoth’un, untuk mad (bacaan panjang)
dengan ringkasan kata maad ~ .dan untuk hamzahwashal dengan kepala shad, untuk
melambangkan bahwa dia bisa bersambung. Metode pensyakalan ini masih dipakai
sampai sekarang.
F.
ABJAD DAN ALFABET
Abjad
arab, pada mulanya hanyalah 22 huruf saja, karena telah dikurangi enam huruf,
yaitu ث,خ,ذ,ض,ظ,غ . orang-orang
arab terdahulu tidak pernah menyebutnya, karena huruf-huruf tersebut belum
diberi perlambang bunyi(harakat atau nuktah). Huruf tsa’ mirip dengan ta’, kha’ dengan ha’, dzal
dengan dal. Demikian pula dhad, zha, ghain, bentuknya mirip shad,ra’,’ain.
Alfabet
Huruf-huruf
hijaiyah sebagaimana yang telah kita pelajari, adalah merupakan susunan nashir
dan yahya di zaman kekuasaan al hajjaj. Keduanya mengikuti susunan abjad dengan
memperhatikan penjumlahan huruf kembar. Maka, mereka menyatukan ba’dan dua
saudara kembarnya yaitu ta’ dan tsa’, menyatukan ha’ dan kha’ kepada jim, dzal
kepada dal, zai kepada ra, syin kepada sin, dhad kepada shad zha kepada tha,
ghain kepada ain, qaf kepada fa’, maka susunan alfabet adalah sebagai berikut:
ا ب ت ث ج ح
خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن ه و ي
G. Para Perintis
dalam Sejarah Kaligrafi Islam
Ada banyak tokoh-tokoh perintis dalam dunia
kaligrafi Arab, diantaranya khattat
Ibnu Muqlah, Ali Ibnu Hilal, Yaqut Al Musta’shimi. berikut adalah kisah hidup
para tokoh-tokoh tersebut.
1.
Ibnu Muqlah
Nama asli Ibnu Muqlah adalah Abu Ali Muhammad ibnu
Ali ibnu Al Hasan ibnu Abdullah ibnu Muqlah. Beliau adalah seorang penulis
budayawan, khattat dan perdana menteri. Lahir pada tahun 272 H(889 M) di kota
Baghdad. Ibnu Muqlah memiliki kecenderungan bakat dalam kebudayaan, khususnya,
bahasa, lalu menekuni keindahan kaligrafi sehingga menguasai sepenuhnya. Selain
itu, beliau juga berhasil menduduki posisi perdana menteri tiga kali berturut.
Namun, mushibah datang silih berganti hingga akhirnya beliau dibunuh pada tahun
328 H dalam usia 56 tahun setelah beberapa tahun dipenjara.
Popularitas Ibnu Muqlah sebagai kaligrafer melebihi
kemasyhurannya sebagai perdana menteri. Beliau menguasai penuh geometri(ilmu
ukur) yang mnolongnya dalam mengembangkan seni kaligrafi. Keindahan tulisannya
yang menakjubkan banyak diurai di dalam kitab-kitab sejarah dan seni. Semula,
Al Qur’an hanya ditulis dengan menggunakan Khat Kufi saja. Namun, setelah Ibnu
Muqlah memberikan alternatif baru dengan mengembangkan Khat Naskhi yang lebih
mudah digoreskan. Tulisan ini kemudian dijadikan sandaran para pelukis untuk menulis
Al Qur’an, sementara Khat Kufi hanya untuk menulis nama-nama suratnya saja.
Sayang sekali, tidak satupun contoh tulisan Ibnu
Muqlah berada di tangan kita. Kecuali dua buah surat Ibnu Muqlah yang pertama
dikenal sebagai Mizan Al Khat li ibni
Muqlah yang tersimpan di perpustakaan Al Atharin di Tunisia, dan yang kedua
Risalah Al Wazir Ibnu Muqlah fi Ismil
Khat wal Qalam tersimpan di Dar Al
Kutub Al Mishriyah. Beliau memiliki
banyak murid yang meneruskan perjuangannya diantaranya Muhammad ibnu Al Simsimani
dan Muhammad ibnu Asad.
2.
Ali Ibnu Hilal
Nama asli beliau adalah Abu Al Hasan Ali Ibnu Hilal.
Beliau adalah seorang kaligrafer Baghdad yang sangat populer, lebih dikenal
dengan nama Ibnu Bauwab, karena ayahnya adalah seorang Bauwab(juru kunci) Dar Al Qadha(kantor pengadilan) di Baghdad.
Sejak kecil, beliau sudah mempelajari kaligrafi dari
Muhammad Ibnu Asad, Muhammad ibnu Al Simsimani yang keduanya adalah murid Ibnu
Muqlah. Beliaulah yang menyempurnakan kaedah-kaedah penulisan kaligrafi dan
memberikan kreasi tambahan pada model kaligrafi Ibnu Muqlah. Beliau menandatangani tulisannya dengan salah
satu dari dua bentuk, yaitu: “katabahu
Ali ibnu Hilal” atau “Ali ibnu Hilal
al Ma’ruf bi ibni Bauwab”.
Pada mulanya, Ali ibnu Hilal bekerja sebagai
spesialis pelukis tembok, kemudian beralih kepada ilustrasi buku sambil
berusaha mempercantik gaya tulisan yang berkembang. Di antara hasil tulisan
kaligrafi beliau tertuang dalam bunga rampai Diwan Sallamah ibnu Jandal di Perpustakaan Aya Shopia di Istambul
dan satu naskah Al Qur’an tersimpan di Perpustakaan Shesterapeti di kota
Dublin, Irlandia.
Tidak ada catatan yang jelas mengenai kelahiran Ibnu
Bauwab. Hanya disebutkan bahwa beliau lahir di penghujung tahun ketiga
hijriyah. Beliau meninggal pada tahun 1032 M dan dikuburkan di samping Imam
Ibnu Hanbal.
3.
Yaqut Al Musta’shimi
Nama asli beliau adalah Jamaluddin Yaqut Al
Musta’shimi Al Thawusyi Al Baghdadi. Beliau adalah seorang pujangga dan
budayawan. Selain itu, beliau juga bekerja sebagai bendahara di Perpustakaan Al
Mustanshiriyah. Beliau sangat menguasai model tulisan tsuluts dan naskhi. Model
tulisannya menjadi model dasar yang mengilhami para tokoh agung kaligrafi
Utsmani oleh karena itu beliau juga dijuluki dengan sebutan Qiblatul Kuttab yang artinya kiblat para
penulis. Beliau meninngal pada tahun 698 H di Baghdad. Salah satu karyanya
berupa mushaf Al Qur’an yang berada di Madrasah Al Asyraf Sya’ban ibnu Husain
ibnu Muhammad ibnu Qalawun di Kairo.
H. Kalam-Kalam Arab Menggeser Kufi
Yang dimaksud dengan kalam adalah khat
atau tulisan indah. Khat naskhi lahir dari tangan Ibnu Muqlah yang telah
menyebar di seluruh penjuru dunia, dan sudah umum digunakan untuk menulis
mushaf AlQuran dan buku-buku. Dari khat naskhi lahir cabang-cabang aliran yang
beranekaragam melalui tangan ibnu baubab, yaqut al mushta’shimi dll misalnya:
·
Kalam tsuluts
·
Kalam tsulutsain
·
Kalam Ghubar
·
Kalam Muhaqqaq
·
Kalam Hulyah
·
Kalam Muqtarin
·
Kalam Mursal
·
Kalam Thumar dll
I. Tulisan Arab dan Tulisan Latin dalam Perbandingan
Huruf Latin, sebagaimana huruf arab,
terdiri dari bermacam-macam bentuk, misalnya huruf roman, huruf Kursif, Round,
Patar dan gothic. Ketika memperbandingkan huruf-huruf tersebut dengan kaligrafi
arab, gohic mempunyai kemiripan dengan huruf
kufi dari sudut siku-siku dan penampilannya yang gagah. Hal ini
diperkuat dengan oleh banyak pendapat bahwa huruf tersebut terinspirasi dari
huruf kufi di abad pertengahan.
Huruf arab memiliki bentuk yang mempesona, karena itu seniman-seniman
masehi abad pertengahan memanfaatkannya untuk dekorasi, keindahannya juga
tampak pada kata-kata yang terangkai, seperti susunan baris-baris harakat yang
membentuk garis-garis lebih simetris untuk sebuah medium seni yang menggumkan.
Ada tiga keistimewaan pokok huruf arab, yaitu
1.
Keanekaragaman bentuk untuk satu huruf
, ha misalnya, ditulis dengan tiga bentuk dll
2.
Kekejuran, yakni pemanjangan dan
kelenturan pada kebanyakan huruf , baik huruf tunggal maupun yang terangkai
diawal atau ditengah-tengah
3.
Keringkasan huruf arab ketika
terangkai dipermulaan atau ditengah-tengah, dengan merangkai setiap huruf satu
sama lain yang menciptakan kata tersebut dengan ringkas. Setiap huruf arab
dapat dirangkai dengan huruf sesudahnya kecuali enam huruf yaitu: alif, dal,
dzal, ra’, zay, dan waw
Adapun huruf latin secara
ilmiah tidak menerima sistem susun karena tidak memiliki tiga keistimewaan
tersebut, huruf latin ditulis seutuhnya dan tidak bisa diringkas ketika
dirangkai dalam sebuah kata, hanya memiliki satu bentuk dan penampilannya tidak
tidak lebih dari satu sosok gayatulisan dallam satu penyajian. Tidak
elastik atau memiliki pemanjangan, seperti halnya tulisan arab. Oleh arena
itu,areal pemakaiannya untuk tujuan dekoratif sangat sempit. Huruf latin juga
bisa digunakan dalam dekoratif dengan cara memperbesar dan menghiasnya dengan
berbagai ornamen.
Pada almanak scriptura(1972) yang terbit di jerman barat, karya
kaligrafer Australia Frederic Neugebouer dalam bahasa Rumania, tetapi
huruf-huruf tersebut tidak mencakup kata-kata yang mengandung makna secara
utuh, seperti yang kita temukan dalam kaligrafi arab saat mengekspresikan
keindahan huruf dalam berbagai ragam
kaligrafi tanpa menghilangkan pesan yang dimaksud.
J. Ragam Pemakaian Kaligrafi Arab
Sampai tahun pertama di abad 20, kaligrafi arab digunakan untuk menuis
medium seni yang tertuang pada dinding rumah, ayat AlQuran , hadist dan kata
–kata hikmat para ulama diobral menjadi lambang yang sanggup menghadirkan
inspirasi seniman. Ini terjadi di banyk negara Islam terutama pada zaman
kekuasaan Usmani.
Sedangkan mushaf AlQuran yang terdapat di masjid-masjid merupakan naskah
yang tercetak di atas percetakan bertekstur yang berpedoman pada mushaf alquran
hasil tulisan kaligrafer kenamaan. Mushaf Usmani adalah buah karya Hafidz Usman, seorang
kaligrafer turki yang hidup di abad kesebelas hijriah dan dipandang sebagai
tokoh rujukan terakhir yang berjuang menyempurnakan sosok khat naskhi.
K. Kufi yang Lahir dari Pembaruan
Ada awal tahun 60an, tulisan kufi memperlihatkan
dinamika yang radikal dan terus berkembang, tak ayal apabila gaya tulisan
tersebut sangat laku untuk cover buku, majalah bahkan 90% brosur dagang aytau
bank ditulis dengan menggunakan khat kufi. Khat Kufi telah mengalami
pembaharuan dengan tulisan yang lebih sederhana dan sedikit menyimpang dari
sisa kaligrafi arab lama.
Hal ini menyebabkan munculnya tren
terbaru tersebut ang dapatdilihat dari berbagai segi-segi berikut:
1.
Khat kufi cenderung menjadi
sederhana sehhinga mudah dibaca
2.
Lahirnya model huruf yang gagah
sehingga sesuai apabila digunakan dalam brosur raksasa
3.
Penulisan hurufnya lebih mudah,
cukup digambar dengan mistar, penggaris segitiga atau penggaris yang mempunyai
lubanh-lubang huruf, tanpa harus ditulis dengan tangan
DAFTAR RUJUKAN
Albaba, Kamil.1992.Dinamika Kaligrafi Islam. jakarta: Darul Ulum.
Idrus, Ali.2010. Sejarah Ilmu Tulisan Arab Kuno. http://idrusali85.wordpress.com /2007/02/04/sejarah-ilmu-tulisan-arab-kuno/. (online) diakses 27 November 2010.
Irashshamad.2009. Sejarah Asal Usul Tulisan Arab Kuno. http://irhashshamad.blogspot.com/2009/02/sejarah-tulisan-asal-usul-tulisan-arab.html. (online) diakses 27 November 2010.
Comments
Post a Comment