KARAKTERISTIK SASTRA ARAB DARI MASA KE MASA
PENDAHULUAN
Dalam periodisasi sastra arab terdapat perbedaan
yang cukup signifikan berdasarkan karakteristik masing-masing. Cirri-ciri
tersebut mejadi khas masing-masing zaman, agar mudah membedakan karya sastra
maka pembahsan karakteistik ini sangatlah penting sehingga kita dapat membedakan ataupun
menentukan suatu karya termasuk dalam jenis karya kedalam zaman tertentu. Pada dasarnya seluruh karya
sastra mempunyai ciri khas masing-masing dari
pembuat karya tersebut, akan tetapi karena masa karya sastranya sangatI
dipengaruhi oleh keadaan sosialnya begitu juga politik yang menyelubunginya
maka terjadi persamaan dan perbedaan karakteristik ataupun ciri antar zaman.
Dari beberapa karya sastra arab dari zaman jahiliyah hingga modern ada
karya-karya yang masih popular saat dan disenangi khalayak banyak karena
karakteristiknya yang unik hingga menghasilkan karya yang sangat luar biasa.
Bukan lah suatu hal yang aneh jika karakteristik dari karya sastra bercampur
menjadi lenih baik ataupun jalan ditempat, karena karya sastra ini dipengaruhi
pula oleh sastrawan yang membuat karya ersebut.
Tujuan penulisan makalah
ini adalah agar pembaca dapat memahami karakteristik karya sastra pada setiap
periode, membedakan cirri-cirinya antara karya sastra satu dan yang lainnya,
menentukan suatu karya kedalam periodesasi tertentu berdasarkan ciri yang telah
terlihat darinya, serta mengetahui perkembangan yang ada berdasarkan
karakteristik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
1.
Keadaan
Sastra Arab di Masa Jahiliyah
Zaman
jahiliyah dimulai sejak dua abad atau satu setengah abad sebelum islam hingga
masa dimana islam muncul. Karya sastra pada zaman ini terbagi menjadi dua yakni
puisi dan prosa. Prosa (natsr) itu sendiri terbagi menjadi beberapa jenis,
yakni: Khutbah, wasiat , Hikmah dan Matsal.
Khutbah merupakan
serangkaian perkataan yang jelas dan lugas yang disampaikan kepada khalayak
ramai dalam rangka menjelaskan suatu perkara penting. Sedangkan wasiat yaitu
nasihat seorang yang akan meninggal dunia atau akan berpisah kepada seorang
yang dicintainya dalam rangka permohonan untuk mengerjakan sesuatu. Hikmah
Yaitu kalimat yang ringkas yang menyentuh yang bersumber dari pengalaman hidup
yang dalam, didalamnya terdapat ide yang lugas dan nasihat yang bermanfaat.
Kemudian Matsal adalah kalimat singkat yang diucapkan pada keadaan atau
peristiwa tertentu, dan digunakan untuk menyerupakan keadaan atau peristiwa
tertentu.
Pada zaman jahiliyah,
genre adab yang paling popular ialah puisi. Saat itu puisi yang paling populer
ialah المعلقات (Puisi-puisi Yang
Tergantung). Disebut demikian karena puisi-puisi tersebut digantungkan di
dinding Ka’bah. Dinding Ka’bah kala itu kurang lebih juga berfungsi sebagai
“majalah dinding”.
Para pujangga Al-Mu’allaqot berjumlah
tujuh orang, yaitu :
امرؤ القيس بن حجر الكندي
زهير بن أبي سلمى
طرفة بن العبد
عنزة بن شداد العنسي
عمرو بن كلثوم
الحارث بن حلزة
لبيد بن ربيعة
Contoh Syair Al-Mu’allaqot :
Diantara Hikmah Zuhair Bin Abi Sulma
Perang yang begitu dahsyat berkecamuk antara kabilah ‘Abs dan kabilah Dzubyan
hanya dikarenakan pacuan kuda, perang ini berlangsung hingga 40 tahun lamanya,
maka dua orang pembesar dari kabilah lain yaitu Haram bin Sinan dan Al-Harits
bin ‘Auf berupaya mendamaikan kedua kabilah tersebut dengan menanggung kerugian
akibat perang yang dialami oleh kedua belah pihak, dan akhirnya perangpun
berhenti. Hal ini memberikan kekaguman yang luar biasa bagi diri Zuhair bin Abi
Sulma sehingga ia menciptakan sebuah Qosidah yang begitu indah dalam rangka
memuji kedua orang tersebut. Zuhair berkata :
سئمت تكـاليـف الـحياة ومن يعش ثـمانين حولا- لا أبا لك
– يسـأم
وأعـلم مـا في اليوم والأمـس قبلـه ولكنني عن علم ما في
غـد عـم
ومـن هـاب أسبـاب المـنايـا ينلـنه ولـو نـال أسباب
السـماء بسلــم
ومن يجعل المعروف في غير أهله يـعــد حـمـده ذمـا عــليه
فيـندم
ومهما تكن عند امرئ من خـليقة ولو خالها تخفى على الناس
تعلم
لأن لـسان الـمـرء مـفـتـاح قــلـبه إذا هو أبدى مـا
يـقول من الـفـم
لسان الفتى نصف و نصف فؤاده ولم يبق إلا صـورة اللحـم
والدم
Aku telah letih merasakan beban kehidupan
Sungguh aku letih setelah hidup delapan puluh tahun ini
Aku tahu apa yang baru saja terjadi dan kemarin hari
Namun terhadap masa depan sungguh aku buta
Barang siapa yang lari dari kematian sungguh akan menemuinya
Walau ia panjat langit dengan tangganya
Barang siapa yang memuji orang yang tak pantas dipuji
Maka esok hari pujiannya itu akan disesali
Seorang manusia tentu memiliki tabiat tertentu
Walau ia sangka tertutupi pasti orang lain akan mengetahui
Itu karena lidah seseorang adalah kunci hatinya
Lidahnyalah yang menyingkap semua rahasia
Lidah itu adalah setengah pribadi manusia dan setengahnya lagi adalah hati
Tidak ada selain itu kecuali daging dan darah sahaja.
Penyair yang paling terkenal pada masa
jahiliyyah ialah Imru’ul Qais. Disamping itu tercatat pula nama-nama
seperti Al-A’syaa, Al-Khansa, dan Nabighah Adz-Dzibyani.
Berdasarkan maknanya, ciri-ciri puisi jahiliyah adalah sebagai berikut antara lain:
a)
Jujur
Dalam
menulis puisi seorang penyair mengungkapkan
apa
yang dirasakannya secara faktual
dan tidak berlebih-lebihan.
b)
Ringkas
Pemantapan dan makna dalam sesedikit
mungkin kata. Terlalu sedikit kata akan membuat ungkapan menjadi kabur, terlalu
banyak kata akan membuat kata akan
terlalu rinci dan berlebihan. Susunannya bebas dari pengulangan dan penambahan penjelas.
c)
Kesederhanaan
Tidak
terhalang oleh struktur kompleks, pemberian contoh yang berkepanjangan, tamsil,
dan kiasan bertele-tele. Para penyair menciptakan puisinya secara alamiah tidak
mengada-ada menulis apa yang dirasakan dan apa yang dilihat.
d)
Romantis
Puisi jahiliah sangat romantis
mengungkapkan jiwa dan perasaan penyairnya. Karena itu para penyair lama ketika
membahas tema-tema faktual
seperti menggambarkan perburuan, peperangan, atau hikmah, semua itu diungkapakan dengan perasaannya
sehingga tema-tema faktual
itu berubah menjadi tema emosional atau perasaan.
Berdasarkan temanya, puisi zaman
jahiliyah dibedakan atas beberapa tema antara lain:
1.
Al Fakhr (membangga-banggakan diri
atau suku)
2.
Al hama:sah (kepahlawanan)
3.
Al madh (puji-pujian)
4.
Ar rotsa’ (rasa putus asa, penyesalan, dan
kesedihan)
5.
Al hija’ (kebencian dan olok-olok)
6.
Al washf (tentang keadaan alam)
7.
Al ghozal (tentang wanita)
8.
Al I’tidzar (sbg permintaan maaf)
Adapun karakteristik sastra di zaman jahiliyah
yaitu: karya-karyanya condong terhadap pembanggaan diri, pembangkit semangat
berperang, pada umumnya tentang masa lalu yang hancur, dan beberapa kosa kata
sulit dipahami. Ringkasnya kalimat. Lafaznya yang jelas, makna yang mendalam, sajak
(berakhirnya setiap kalimat dengan huruf yang sama), sering dipadukan dengan
syair, hikmah dan matsal.
Sedangkan ciri
yang paling menonjol dalam syair Arab jahiliyah adalah menonjolkan
sifat kejantanan dan dan keperwiraan, menceritakan segala macam pengalaman yang
baik maupun yang buruk dan sebagainya.
2.
Keadaan
Sastra Arab di Masa Perkembangan Islam
Zaman perkembangan islam
dimulai sejak munculnya islam hingga
berakhirnya kepemimpinan Khulafa’urrasyidin tahun 40 H. Sastra Pada periode ini
dengan jelas menggambarkan tentang kehidupan masyarakat islam yang bergitu
gemilang jauh dari kekacauan. Pada periode ini sastra pun berkembang sesuai
dengan ruh keislaman.Dan pada zaman ini muncul genre sastra baru yaitu maqomat.
Jenis-jenis
karya sastra di masa ini antara lain:
1.
Puisi
Pada
zaman ini didominasi puisi bersajak sedangkan temanya berkisar antara
puji-pujian dan serangan terhadap orang
lain.tetapi ada juga tema tentang keagamaan dan mistik dan sedikit tentang
anggur dan seks.
2.
Sastra non fiksi
Salah
satu bentuknya adalah bentuk kompilasi yang merupakan rangkuman fakta, gagasan,
kisah-kisah dan sya’ir dengan topic tertentu tetapi ada juga ragkuman tentang
rumah,taman.wanita,orang tuna netra,binatang hingga orang kikir.
3.
Biografi
Sastra
arab yang berhubungan dengan biografi contohnya adalah Kitab Al-Anshraf atau
buku geneologi orang-orang terhormat bentuk yang lainya adalah bentuk kamus
biografi.
4.
Buku harian
Buku
harian disini mirip dengan buku harian modern.
5.
Sastra fiksi
Salah
stu contoh sastra non fiksi adalah epik, dan dongeng
6.
Maqomat
Maqomat
disini adalah sejenis anekdot
7. Syair Romantis
Seperti
syair kebanyakan tetapi isinya penuh dengan kata-kata dan kisah-kisah romantis
seperti layla majnun.
Pujian
yang awalnya sedikit namun pada masa khulafa al rasyidin mulai
dikembangkan.
Pada zaman
ini kedudukan sya’ir digantikan oleh khutbah dikarenakan beberapa hal:
1.
Semangat untuk menyebarkan islam dengan dakwah dan jihad.
2.
Pengaruh Al-qur’an dan hadits terhadap kefasihan sastra
arab.
3.
Berkembangnya diskusi masyarakat dalam berbagai pembahasan
baik sosial-politik pendidikan dan sebagainya.
4.
Penjelasan kebijakan politik dan hukum para kholifah.
3.
Keadaan Satra Arab di Masa Bani
Umayyah
Masa ini dimulai sejak berdirinya
Dinasti Umayyah tahun 40 H hingga masa keruntuhannya tahun 132 H. Pada masa Bani Umayyah puisi tumbuh subur karena adanya
perhatian dari para kholifah terhadap sastra dan kecintaan mereka terhadap
puisi bertemakan madah, dekatnya para kholifah dengan para penyair, munculnya
partai-partai politik dari berbagai sekte agama yang masing-masing sekte
mempunyai penyair yang mendukung dan membelanya, banyaknya pengangguran
sehingga pemerintah umayyah menyibukkan mereka dengan menyuruh mereka membuat
puisi dan aktif dalam bidang sastra, banyaknya para penyair yang mencari nafkah
dari puisi, terpengaruhnya para penyair dengan gaya yang terdapat dalam
Al-Qur’an dan Hadits, serta munculnya berbagai dewan sastra atau forum diskusi
sastra.
Gaya
puisi pada masa Umayyah bermacam-macam, ada yang susah seperti gaya puisi pada
masa Jahiliyah (prismatis) dan juga ada yang mudah (diafan), seperti bahasa
sehari-hari, serta ada yang berada di tengah-tengah antara keduanya.
A. Kekhususan Sastra Arab di Masa
Bani Umayyah
Kekhususan
sastra pada masa Umayyah adalah terdapat puisi yang menggambarkan tentang
perluasan islam dan dakwah islam. Puisi ini merupakan perkembangan dari puisi
yang terdapat pada masa permulaan islam. Dalam puisi ini digambarkan tentang
bagaimana islam memperluas daerahnya, tentang keimanan tentara muslim, atau
tentang berjihad di jalan Allah. Adapun tema-temanya meliputi patriotisme,
ratapan, dan kerinduan kepada tanah air.
Ciri-ciri puisi pada masa ini antara lain
sebagai berikut.
a)
Diksi bersih,
jernih, dan tepat, karena dekat dengan zaman Nabi
b)
Khalifah-khalifah
Umayyah mengizinkan mengawali puisi dengan pujian terhadap wanita kesayangan
mereka dimana hal ini tidak boleh pada zaman khulafa al rasyidin.
c)
Kritik dan sinisme yang tidak dikenal pada pra-islam,
pada masa ini sangat populer.
B. Sastrawan-sastrawan Kontemporer
dan Karya-karyanya
Pada
masa Umayyah ada beberapa tema yang berkembang dan ada juga yang baru. Di
antara beberapa tema yang berkembang adalah:
a.
Al
madah
Pada Zaman Jahiliyah tema ini
terbatas pada pujian terhadap kemuliaan, keberanian dan kesetiaan para pimpinan
pada masyarakatnya, sementara pada zaman ini, pujiannya berkembang pada aspek
lain, seperti agama, kehidupan politik, atau sosial. Para penyair memuji
seseorang karena ketaqwaannya, kesalehannya, keistiqomahannya, kerajinannya
menjalankan sholat, syariat islam dan naik haji.
b.
Al
Hijja’
Di zaman ini tema ini berkembang dan berubah menjadi naqa’idh. Tema
ini mencatat kehidupan zaman Umayyah, seperti sistem politik dan gaya kehidupan
sosialnya atau adat istiadat orang-orang Arab yang baik atau yang buruk,
misalnya dalam puisi Jarir mengejek Akhtal dan kaumnya bahwa mereka kafir. Para
penyair terkemuka dalam tema ini adalah Jarir, Farazdaq, dan Ar-Ra’i
An-Numayri.
c.
Al
Ghazal
Tema
ini berkembang pada zaman Umayyah karena munculnya kehidupan yang serba mewah
di berbagai tempat.
d.
Al
Wasfu
Tema ini berkembang pada zaman Bani
Umayyah karena kehidupan orang Arab pada saat itu mulai berubah baik dari segi
mata pencahariannya, cara hidupnya maupun tempat tinggalnya.
Adapun tema-tema baru yang muncul pada zaman Bani
Umayyah adalah: Al-Siyasat (Politik)
dan An-Naqa’idh (Polemik).
4.
Sastra Pada Zaman Abasiyah
Zaman Abasiyah disebut dengan zaman keemasan (the golden age), tidak hanya pada segi sosial dan politik yang
berkembang, namun bidang lainnya juga berkembang termasuk sastra, budaya dan
agama. Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair
sebagai titik puncak dari berkesenian ini dikarenakan pula
Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab,
maka pada zaman Bani Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel,
buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama.
Karya-karya sastra yang berkembang pada saat
itu sangat banyak sekali yang temanya berbeda dengan tema yang ada pada
zaman-zaman sebelumnya. Puisi mengalami perkembangan yang amat pesat
dikarenakan adanya dorongan dari para khalifah dan para pemimpin yang berkuasa
pada saat itu, seringkali ditemukan tema-tema nya sama dengan sebelumnya tapi
ada juga yang baru yaitu zuhdiyat (zuhud), khamariyat (minuman keras),
thardiyat (perburuan). Tema fakhr yang pada Zaman Jahiliyah dipergunakan untuk
membanggakan suku dan kehormatannya, pada zaman ini fakhr digunakan
penyair untuk membanggakan diri,
kehidupan, dan perasaannya sendiri.
Adanya gerakan penerjemahan yang
banyak menghasilkan pemikiran filsafat ke dalam puisi-puisi mereka, seperti
dalam puisi Abu Tamam, Al-Muntanabbi dan Abu A’la al-Ma’ary. Adanya taman-taman
yang indah,lengkap dengan air mancur di tengah-tengahnya, istana-istana yang
besar dan lain-lain.
Pada zaman
ini beberapa penyair menghilangkan bagian awal qasidah dan ithlal (sisa
reruntuhan rumah). Mereka cenderung memulai qasidahnya dengan diskripsi tentang
istana dan musim semi. Mereka menjaga hubungan antara bagian qasidah tersebut
dan susunan strukturnya.
Pada zaman
ini prosa khitabat (khutbah) berkembabg pesat dan tidak ada sesudah zman ini.
Tema khitobat biasanya berisi ajakan dari pemerintah untuk masyarakat untuk
tetap tenang, seruan untuk berpegang teguh kepada agama ,anjuran patuh kepada
khalifah, seruan pada tentara agar bangkit, sambutan para tamu serta berisi
peringatan atau janji-janji.
Ciri-ciri
pidato pada zaman ini adalah gaya sederhana, kata-katanya mudah dimengerti,
penggunaan kalimat yang panjang dan pendek seimbang, kadang-kadang kalimatnya
bersajak, mengutip ayat-ayat al-Qur’an atau puisi-puisi Arab yang baik.
Salah
satu contoh pidato pada zaman ini ialah khutbah Abu Abas as-Saffah ketika
diangkat menjadi khalifah.
"ازَعْمتْ
السيّئةُ أنّ غيرنا أحق بالرّياسة والخلافة منّا.....بم ولم أيّها النّاس ؟ وهدى
الله الناسَ بعد ضلالهم....................."
Khutbah ini adalah pidato politik pertama
yang disampaikan oleh Abu al-Abbas As-Saffah pada awal massa pemerintahannya di
masjid Kuffah. Dia adalah khalifah Bani Abbasiyyah pertama, nama lengkapnya
adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Selain sebagai
khalifah dia juga seorang cendikiawan dan sastrawan. As-Saffah
memulai pidatonya dengan membaca hamdallah kepada Allah SWT, sholawat Nabi
Muhammad SAW, lalu menyebutkan keutamaan Bani Abbasiyyah, yang diperkuat
dengan, membacakan salah satu ayat dari al-Qur’an al-Karim yang menunjukkan
tentang kemuliaan ahlu al-bait, yaitu: qullaa ‘as’alukum ‘alayhi ajran ‘illaa
al-mawwadata fi al-qurba (Katakanlah: aku tiada meminta upah atau gaji kepadamu
atas seruan ini, kecuali untuk berkasih sayang dalam kekariban) (Asy-Syura,
ayat 23).
Pada masa
ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan
yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ajam (non Arab), tetapi tidak membuat
ssastra pada zaman ini ketingalan zaman secara tiba-tiba. Sejumlah penulis
besar tetap mengikuti gaya zaman ini meskipun gaya saj’ baru sudah mendapat
dasar di sekitar mereka. Saj’ terdiri dari prosa yang frase-frasenya berirama
dalam kelompok dari dua atau lebih bagian. Syarat-syaratnya antara lain adalah
kata-katnya harus indah dan merdu, tiap frase beriramanya mengandung makna yang
berbeda, frase beriramanya memenuhi persyaratan tawazun, frase sesudahnya harus
selalu lebih pendek dari pada frase sebelumnya. Badi’ di lain pihak, yang
mengandung saj’ dan lain-lain, dapat menjadi banyak bentuk. Sebagaian ahli
sastra menyebutkan 14 ragam badi’dan sebagian lagi menyebutkan dua kali lipat
dari itu atau lebih. Badi’ terdiri dari penciptaan frase yang identik dalam
struktur suku kata, terkadang dalam bentuk huruf tanpa tanda dikritikalnya,
tetapi berbeda dalam makna. Contoh terbaik saj’ dan badi’ hádala seperti berikut.
1. Korespondensi kekhalifahan
2. Esai sastra
Esay sastra disusun disusun penulisnya untuk
melukiskan perbincangan, melaporkan pidato, menuturkan kisah, atau menguraikan
tema keislaman, moral, atau kemanusiaan. Yang termashur antara lain Risalah Al
Ghufron.
3. Maqamat
Badi al-Zaman al-Hamadzani dikenal sebagai
pencipta maqamah, sejenis anekdot dramatis yang substansinya berusaha
dikesampingkan oleh penulis untuk mengedepankan kemampuan puitis, pemahaman dan
kefasihan bahasanya. Sebagai contoh,cerita tentang abu nuwas.
5.
Sastra Pada zaman Kemunduran Islam
Salah satu ciri sastra
pada zaman ini adalah adanya ketertarikan terhadap sastra populer. Ini dapat
dilihat dari puisi dan prosanya. Pada masa ini alf wa layla sudah berada
pada bentuk yang terakhirnya, Legenda dan Roman semakin digemari. Para penulis
pada zaman ini adalah penulis-penulis ulung yang karyanya menunjukkan
teknik-teknik yang baik. Tema-temanya, meski kuno, tapi bervariasi dan hidup.
Pada zaman ini puisi yang
terkenal adalah al-Burdah (Jubah Nabi)
yang bertajuk Burdah Bushiri yang puisi-puisinya tersebut bertemakan
pujian-pujian terhadap nabi Muhammad SAW.
Pada zaman ini juga di kenal adanya
sastra perjalanan, sebuah karya sastra yang berisikan tentang perjalanan
seorang sastrawan yang berpindah-pindah dari negara atau daerah satu ke daerah
lain. seperti Al-Dimisyqi, Abu Al-Fida, Ibnu Majid dari Nejd. Selain itu ada
pula Al-Qalqashandi, yang menulis
ensiklopedia tentang teknik dan cara menulis yang ditujukan untuk para penulis
dan sekretaris.
Pada masa ini, sejumlah
ahli sejarah dan penulis biografi penting bermunculan, seperti Al-Dhahabi yang
menulis buku History of Islam, Al-Safadi yang menulis buku tentang
orang-orang pertama yang hidup dalam sejarah islam abad 7 yang disusun secara alfabetis, Ibnu Hajar,
Al-Syarkawi, dll. Ibnu Taimiyah, seorang pemikir agama besar juga hidup pada
zaman ini.
salah satu genre sastra yang dikembangkan
dengan baik, yaitu seni pertunjukan wayang (zhill). Pertama kali muncul
dengan tajuk Thayf al-Khayal fi Ma’rifah Khayal al-Zhill (Bayang-bayang
Imajinasi tentang Pengetahuan Pertunjukan Wayang) oleh Muhammad ibn Daniyal
al-Khuza’I al-Maushili.
6.
Sastra Pada Zaman Kebangkitan Islam
A.
Ciri-ciri kebangkitan sastra pada masa ini
Hal ini dapat dilihat dengan adanya perhatian besar
terhadap bangkitnya kembali karya sastra arab klasik yang ada pada masa lalu,
baik kesusastraan maupun filsafat dan disiplin ilmu lainnya. Hal ini juga
membuka munculnya para penulis yang setia terhadap peninggalan-peninggalan
klasik mereka. Bentuk dan model klasik ini diikuti oleh sejumlah penulis pada
masa permulaan kebangkitan. misalnya adalah sayyid Ali Darwis di mesir yang
menulis puisi mutanabbi (10 M) dan maqomat hariri (12 M).
B.
Sastrawan-Sastrawan Kontemporer dan
Karya-Karyanya
Genre-Genre
Sastra hasil dari masa kebangkitan
1.
Novel
Novel muncul
pada pertengahan abad ke-19, dimulai dari novel terjemahan dan diterbitkan
secara bersambung di majalah-majalah.
Perkembangan novel dibagi
menjadi 3 tahap, yaitu:
1)
Novel
yang masih dipengarui oleh al-maqamat, salah satu genre sastra pada masa
sebelumnya, seperti novel Hadist Isa bin Hisyam, karya Muhammad al-Muwalhi
(1858-1930) dan karya Hafiz Ibrahim (1870-1932) yang berjudul Layali Satih.
2)
Novel
yang sudah meninggalkan ciri maqamat-nya, seperti
Rifaat-Tahtawi (1801-1873) yang menerjemahkan novel Telemaque,
karya sastrawan prancis, fenelon. Dan Mustafa Luthfi al-Manfalhuti (1876-1924)
yang menerjemahkan Paul et Virginia.
3)
Novel
asli yang ditulis oleh para novelis arab, seperti Zainab, Karya Muhammad Husayn
Haikal (1888-1965).
2.
Cerpen
Cerpen pertama dalam bahasa arab juga
berupa terjemahan atau sdaduran dari kesusastraan Eropa, terutama Inggris dan
Prancis. Beribu-ribu cerpen terbit di Mesir dan Lebanon antara tahun 1870-1914.
Cerpenis-cerpenis yang
Terkenal pada masa ini adalah
a)
Jurji
Jabrail Balit yang merupakan penerjemah cerpen pertama di Syiria
b)
Mustafa
Luthfi al-Manfaluthi yang merupakan seorang esais dan novelis
3.
Drama
Pada masa ini telah muncul Drama dalam kesusastraan Arab
Pelopornya adalah Marun Naqqas menulis drama musikal pertama yang berjudul
al-Bakhil (Si Bakhil )yang terinpspirasi dari drama dari perancis
Molière's drama L'Avare.
Puisi pada masa ini dimulai
dengan ekspresi-ekspresi mengenai
politik, sosial dan budaya. Secara umum gambaran tentang puisi Arab di
Mesir sampai tahun 1920 baik bentuk bahasanya masih mengunakan bentuk dan
bahasa yang lama, sementara mengenai temanya, masih ada yang menggunakantema
yang lama tapi di adaptasi dengan suasana yang baru dan ada juga tema-tema yang
baru, seperti tema nasionalisme. Tema nasionalisme ini kadang menyurakan
tentang Pan Arabisme, Pan Islamisme atau tema yang menunjukkan kesetiaan kepada
Sultan Turki.
Pada masa Kebangkitan
(An-Nahdhah) dan masa Modern (al-Hadist), perkembangan puisi dapat dibedakan
menjadi 3 aliran,
1)
Aliran
al-muhafidzun, yaitu aliran yang masih memelihara kaidah puisi Arab secara
kuat, misalnya
§ Keharusan menggunakan wazan (pola), qafiyah (rima)
§ Jumlah katanya harus banyak
§ Uslubnya kuat
§ Temanya masih mengikuti tema-tema masa sebelumnya, seperti madah
(pujian), ghazal (pacaran), fakhr (membanggakan diri) dan sebagainya.
2)
Aliran
al-majaddidun yaitu aliran yang muncul karena adanya perubahan situasi politik,
sosial dan pemikiran.adanya keinginan untuk lepas dari hal-hal yang berrbau
tradisional, adanya pengaruh aliran romantik, dari penyair-penyair Barat,
adanya penelitian-penelitian modern tentang modern tentang jiwa, yang
menjadikan menjadikan puisi sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan jiwa
dan realita pada masyarakat. Termasuk dalam kategori aliran ini adalah
§
Khalil Matram Karya-karyanya cenderung
bersifat politis. Puisi-puisi liriknya banyak menggambarkan tentang tena
nasionalistik. Ia menerjemahkan beberapa drama dari bahasa Prancis dan Inggris
Dalam puisi-puisi ini terdapat
§ adanya pembaharuan dalam topiknya, khususnya dalam hal yang
menyangkut tentang masyarakat dan kehidupan, serta kasus-kasus yang terjadi di
masyarakat dan kehidupan
§ adanya pembaharuan dalam deskripsi dan majaz-majaznya
§ adanya pengaruh aliran simbolis dalam puisi arab
§ adanya kecenderungan memotong-motong puisi.
3)
Aliran
Mughallinu, yaitu aliran yang mengikuti aliran sastra yang ada di eropa setelah
perang dunia ke satu. Ciri-ciri dari aliaran ini adalah tidak vokal, tapi
menggunakan cara yang pelan-pelan, didominasi oleh deskripsi.
Yang termasuk dalam kategori
ini adalah
§ Ibrahim Najdi (1847-1906)
7.
Sastra
Arab Modern diaspora dan mahjar
Menjelang
zaman modern, sastra Arab mulai dihadapkan dengan sastra Barat. Dalam hal ini,
terdapat dua aliran utama. Pertama, aliran konservatif (المحافظون), yakni mereka yang masih memegang kaidah
puisi Arab secara kuat. Mereka itu antara lain Mahmud Al-Barudi dan Ahmad
Syauqi. Yang terakhir disebut ini sering dikenal dengan sebutan أمير الشعراء (Pangeran Para Penyair) dan Poet of Court
(Penyair Istana). Disamping itu terdapat pula Hafizh Ibrahim yang dikenal dengan
sebutan Poet of People (Penyair Rakyat). Aliran yang kedua ialah aliran
modernis (المجددون), yakni mereka yang
ingin lepas dari kaidah dan a tradisional serta sangat terpengaruh oleh sastra
Barat.
Memasuki zaman modern,
perseteruan antara sastra Arab dan sastra Barat semakin menjadi-jadi. Dalam
dunia puisi, terdapat dua aliran utama, yakni konservatif dan modernis. Di kubu
konservatif terdapat Mushthafa Shadiq Al- Rafi’i, Mahmud Abbas Al-Aqqad dan
kawan-kawan. Sementara di kubu modernis terdapat Ahmad Amin, Muhammad Husain
Haikal, Taha Husain, dan kawan-kawan. Dalam dunia puisi juga terdapat aliran
konservatif dan modernis. Aliran modernis memperkenalkan puisi bebas (puisi
tanpa sajak). Beberapa sastrawan aliran Romantik pada tahun 1930-an telah
mendirikan kelompok penyair bernama Kelompok Apollo. Satu perkembangan unik
puisi di masa ini ialah munculnya شعر المقاومة
(Puisi Perlawanan) yaitu puisi yang menggelorakan perlawanan Islam dan Arab
melawan Zionis Israel.
Kesusastraan
Arab Modern memiliki wajah baru baik dari segi bentuk maupun isinya, dan muncul
pula qosidah-qosidah Arab dengan wajah yang baru. Syair Arab modern mampu
bertahan dari akhir abad ke 19 sampai sekarang yang menunjukkan keberadaannya.
Dari segi
temanya, puisi pada masa ini dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1.
tema-tema lama yang masih dipakai dan semakin banyak
digunakan, seperti:
a.
wasf (diskripsi),
pada masa modern tema-tema ini sudah memberikan gambaran tentang
masalah-masalah yang menyangkut perasaan atau jiwa.
b.
Fahr (membanggakan
diri). Maksud digunakannya tema ini adalah untuk membangkitkan perjuangan suatu
bangsa dalam melawan penjajahan asing, yang diagung-agungkan dalam tema ini
biasanya adalah tokoh-tokoh sejarah.
c.
Madah (puji-pujian),
tema ini ditujukan kepada para pejuang kemerdekaan dan kebangsaan.
2.
Tema-tema yang mengalami sedikit perubahan, seperti:
a.
naqdun (kritikan),
tema ini lebih banyak ditujukan kepada persoalan individu maupun kolektif.
b.
Keperwiraan, tema ini lebih banyak digunakan untuk
mengagungkan sebuah bangsa atau umat
c.
Ritsa (ratapan),
tema ini digunakan untuk meratapi para pejuang yang telah gugur di medan
perang, bahkan untuk bangsa dan negara yang telah hancur.
d.
Ghazal (cinta),
tema ini lebih fokus pada nyanyian-nyanyian cinta yang melukiskan gelora perasaan
jiwa.
3.
Tema-tema baru
yang muncul pada zaman modern, seperti
a.
Hamasah wa
wathoniyyah(patriotik), tema ini berisi tentang rasa
cinta tanah air dan bertujuan untuk membakar semangat rakyat dan menyeru kepada
rakyat untuk mengorbankan segala-galanya demi negara.
وللاأوطان في دمّ كل حرّ #
يد سلفت ود ين مستحقّ
ومن يسقى ويشرب بامنايا # إذا
الاحرارلم يسقوويسقوا
ولايبنى الممالك كالضحايا # ولايدنى
الحققوق ولايحق
ففى القتلى لاجيال حياة # وفتى الأسرى فدى لهمووعتق
b.
Syi’run Da’wah Ila
Ishlahi al-ijtimaa’i(kemasyarakatan), sesuai dengan kondisi
masyarakat pada waktu itu yang baru saja melepaskan diri dari cengkraman
penjajah, masalah kemiskinan dan masalah sosial yang lain. Masalah-masalah ini
yang menjadi sorotan para penyair pada masa modern.
ايها المصلحون ضاق بنا العيشف في مصر
لنسه # و
يطلب اسباب الحاة لذاه
طروب الأمانى يبالى بشعه # وإن ملأ الدنيا ضجيع نعاته
إذا نال ما يرجوه لم يعنه امرؤ # سواه ولم يحفل بطوله سكاته
سواء عليه منزل السخط والرضا # إذا نال ما يرضيه من شهواته
يرى الدين و الدنيا ثراء يصيب # و قصرا نزل العين عن شرفاته
4.
Asy-syi’ru
al-wijdaani(kejiwaan). Tema ini berisi tentang rintihan, keluhan jiwa
penderitaan, kesengsaraan, harapan, dan cita-cita.
مرت االايام
لم نلتق, انت هناك وراء مدى الااحلام
في افق حف به المجهول
وانا امشى, وارى وانام
استنفد ايامى واجر غدى المعسول
فيفر الى الماضى المفقود
ايامى تأكلهااالاهات متى ستعود؟
مرت ايام لم تتذكر ان هناك
في زاوية من قلبك حبا مهجورا
عضت في قدميه الاشواك
حبا يتضرع مذعورا
هبه النور..............
a.
Puisi drama, yakni
puisi yang dibuat secara puitis.
قيس :
ليلاى , ليلى القلب
ليلى : قيس , مالى دارت بى الأرض وساء حالى
قيس : فد اك ليلى مهجتى ومالى من السقام ومن
الهزال
تعالى اشكى لى النوى تعالى القى ذراعيك على خيال
(تصافحه بشوق)
ليلى : أحق حبيب القلب انت
بجانبى احلم سرى أم نحن منتبهان
أبعد تراب المهد من أرض عامر بأرض ثقيف نحن مغتربان
KESIMPULAN
Seiring dengan berkembangnya zaman, karakteristik karya
sastra arab semakin berkembang. Banyak yang terpengaruh budaya barat dengan
menulis karya sastra secara bebas tanpa ada aturan tertentu. Akan tetapi para
penyair arab banyak pula yang masih berpegang teguh pada bahr dan rima-rima
yang ada. Dan diantara keduanya ada yang tetap mempertahankan tema-tema yang
lama dengan penulisan yang lama akan tetapi tidak terlepas dari perkembangan
zaman, atau disebut sastra modern yang telah terpengaruhi oleh berbagai budaya
luar arab.
Banyak hal yang mendominasi kemajuan dan kemunduran
sastra seperti halnya faktor politik, ekonomi, dan sistem pemerintahan pada
masa tersebut. Semakin baik sistem pemerintahan yang ada pada suatu masa maka
demikian pula yang akan terjadi pada karya sastra yang dihasilkan pada saat
itu. Begitu juga sebaliknya. Jadi secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa
perkembangan karya sastra dari masa ke masa tidak selalu menjadi lebih baik
karena adakalanya perkembangan tersebut tidak lebih baik dari masa sebelumnya.
DAFTAR RUJUKAN
From: http/WWW.HUMBUD.UIN-MALANG.AC.ID. (online).
Selasa,15 November2010.12:45.
From: http://www.averroes.or.id/thought/pengaruh-sastra-arab-terhadap-andalusia-dan-barat.html.
(online). kamis 9 Desember 2010
From: http://kafeilmu.co.cc/tema/ciri-ciri-sastra-zaman-islam.html.
(online). kamis 9 november 2010
Kumpulan makalah
Sastra Arab.2009.
Sutiyasumarga, males.2001.Kesusastraan Arab Asal
Mula dan Perkembangannya.Jakarta: Zikrul Hakim.
Comments
Post a Comment