KARAKTERISTIK SASTRA ARAB DARI MASA KE MASA

 PENDAHULUAN

Dalam periodisasi sastra arab terdapat perbedaan yang cukup signifikan berdasarkan karakteristik masing-masing. Cirri-ciri tersebut mejadi khas masing-masing zaman, agar mudah membedakan karya sastra maka pembahsan karakteistik ini sangatlah penting  sehingga kita dapat membedakan ataupun menentukan suatu karya termasuk dalam jenis karya kedalam  zaman tertentu. Pada dasarnya seluruh karya sastra mempunyai ciri khas masing-masing dari  pembuat karya tersebut, akan tetapi karena masa karya sastranya sangatI dipengaruhi oleh keadaan sosialnya begitu juga politik yang menyelubunginya maka terjadi persamaan dan perbedaan karakteristik ataupun ciri antar zaman. Dari beberapa karya sastra arab dari zaman jahiliyah hingga modern ada karya-karya yang masih popular saat dan disenangi khalayak banyak karena karakteristiknya yang unik hingga menghasilkan karya yang sangat luar biasa. Bukan lah suatu hal yang aneh jika karakteristik dari karya sastra bercampur menjadi lenih baik ataupun jalan ditempat, karena karya sastra ini dipengaruhi pula oleh sastrawan yang membuat karya ersebut.

            Tujuan penulisan makalah ini adalah agar pembaca dapat memahami karakteristik karya sastra pada setiap periode, membedakan cirri-cirinya antara karya sastra satu dan yang lainnya, menentukan suatu karya kedalam periodesasi tertentu berdasarkan ciri yang telah terlihat darinya, serta mengetahui perkembangan yang ada berdasarkan karakteristik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

 

1.        Keadaan Sastra Arab di Masa Jahiliyah

Zaman jahiliyah dimulai sejak dua abad atau satu setengah abad sebelum islam hingga masa dimana islam muncul. Karya sastra pada zaman ini terbagi menjadi dua yakni puisi dan prosa. Prosa (natsr) itu sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, yakni: Khutbah, wasiat , Hikmah dan Matsal.

Khutbah merupakan serangkaian perkataan yang jelas dan lugas yang disampaikan kepada khalayak ramai dalam rangka menjelaskan suatu perkara penting. Sedangkan wasiat yaitu nasihat seorang yang akan meninggal dunia atau akan berpisah kepada seorang yang dicintainya dalam rangka permohonan untuk mengerjakan sesuatu. Hikmah Yaitu kalimat yang ringkas yang menyentuh yang bersumber dari pengalaman hidup yang dalam, didalamnya terdapat ide yang lugas dan nasihat yang bermanfaat. Kemudian Matsal adalah kalimat singkat yang diucapkan pada keadaan atau peristiwa tertentu, dan digunakan untuk menyerupakan keadaan atau peristiwa tertentu.

Pada zaman jahiliyah, genre adab yang paling popular ialah puisi. Saat itu puisi yang paling populer ialah المعلقات (Puisi-puisi Yang Tergantung). Disebut demikian karena puisi-puisi tersebut digantungkan di dinding Ka’bah. Dinding Ka’bah kala itu kurang lebih juga berfungsi sebagai “majalah dinding”.  

Para pujangga Al-Mu’allaqot berjumlah tujuh orang, yaitu :
امرؤ القيس بن حجر الكندي 
زهير بن أبي سلمى
طرفة بن العبد
عنزة بن شداد العنسي
عمرو بن كلثوم
الحارث بن حلزة
لبيد بن ربيعة

Contoh Syair Al-Mu’allaqot :
Diantara Hikmah Zuhair Bin Abi Sulma
Perang yang begitu dahsyat berkecamuk antara kabilah ‘Abs dan kabilah Dzubyan hanya dikarenakan pacuan kuda, perang ini berlangsung hingga 40 tahun lamanya, maka dua orang pembesar dari kabilah lain yaitu Haram bin Sinan dan Al-Harits bin ‘Auf berupaya mendamaikan kedua kabilah tersebut dengan menanggung kerugian akibat perang yang dialami oleh kedua belah pihak, dan akhirnya perangpun berhenti. Hal ini memberikan kekaguman yang luar biasa bagi diri Zuhair bin Abi Sulma sehingga ia menciptakan sebuah Qosidah yang begitu indah dalam rangka memuji kedua orang tersebut. Zuhair berkata :

سئمت تكـاليـف الـحياة ومن يعش ثـمانين حولا- لا أبا لك – يسـأم

وأعـلم مـا في اليوم والأمـس قبلـه ولكنني عن علم ما في غـد عـم

ومـن هـاب أسبـاب المـنايـا ينلـنه ولـو نـال أسباب السـماء بسلــم

ومن يجعل المعروف في غير أهله يـعــد حـمـده ذمـا عــليه فيـندم

ومهما تكن عند امرئ من خـليقة ولو خالها تخفى على الناس تعلم

لأن لـسان الـمـرء مـفـتـاح قــلـبه إذا هو أبدى مـا يـقول من الـفـم

لسان الفتى نصف و نصف فؤاده ولم يبق إلا صـورة اللحـم والدم


Aku telah letih merasakan beban kehidupan

Sungguh aku letih setelah hidup delapan puluh tahun ini

Aku tahu apa yang baru saja terjadi dan kemarin hari

Namun terhadap masa depan sungguh aku buta

Barang siapa yang lari dari kematian sungguh akan menemuinya

Walau ia panjat langit dengan tangganya

Barang siapa yang memuji orang yang tak pantas dipuji

Maka esok hari pujiannya itu akan disesali

Seorang manusia tentu memiliki tabiat tertentu

Walau ia sangka tertutupi pasti orang lain akan mengetahui

Itu karena lidah seseorang adalah kunci hatinya

Lidahnyalah yang menyingkap semua rahasia

Lidah itu adalah setengah pribadi manusia dan setengahnya lagi adalah hati

Tidak ada selain itu kecuali daging dan darah sahaja.

 

 Penyair yang paling terkenal pada masa jahiliyyah ialah Imru’ul Qais. Disamping itu tercatat pula nama-nama seperti Al-A’syaa, Al-Khansa, dan Nabighah Adz-Dzibyani

Berdasarkan maknanya, ciri-ciri puisi jahiliyah adalah sebagai berikut antara lain:

a)        Jujur  

Dalam menulis puisi seorang penyair mengungkapkan apa yang dirasakannya secara faktual dan tidak berlebih-lebihan.

b)        Ringkas

Pemantapan dan makna dalam sesedikit mungkin kata. Terlalu sedikit kata akan membuat ungkapan menjadi kabur, terlalu banyak kata akan membuat kata akan terlalu rinci dan berlebihan. Susunannya bebas dari pengulangan dan penambahan penjelas.

c)        Kesederhanaan

Tidak terhalang oleh struktur kompleks, pemberian contoh yang berkepanjangan, tamsil, dan kiasan bertele-tele. Para penyair menciptakan puisinya secara alamiah tidak mengada-ada menulis apa yang dirasakan dan apa yang dilihat.

d)        Romantis

Puisi jahiliah sangat romantis mengungkapkan jiwa dan perasaan penyairnya. Karena itu para penyair lama ketika membahas tema-tema faktual seperti menggambarkan perburuan, peperangan, atau hikmah, semua itu diungkapakan dengan perasaannya sehingga tema-tema faktual itu berubah menjadi tema emosional atau perasaan.

Berdasarkan temanya, puisi zaman jahiliyah dibedakan atas beberapa tema antara lain:

1.        Al Fakhr (membangga-banggakan diri atau suku)

2.        Al hama:sah (kepahlawanan)

3.        Al madh (puji-pujian)

4.        Ar rotsa’ (rasa putus asa, penyesalan, dan kesedihan)

5.        Al hija’ (kebencian dan olok-olok)

6.        Al washf (tentang keadaan alam)

7.        Al ghozal (tentang wanita)

8.        Al I’tidzar (sbg permintaan maaf)

 

Adapun karakteristik sastra di zaman jahiliyah yaitu: karya-karyanya condong terhadap pembanggaan diri, pembangkit semangat berperang, pada umumnya tentang masa lalu yang hancur, dan beberapa kosa kata sulit dipahami. Ringkasnya kalimat. Lafaznya yang jelas, makna yang mendalam, sajak (berakhirnya setiap kalimat dengan huruf yang sama), sering dipadukan dengan syair, hikmah dan matsal.

Sedangkan ciri yang paling menonjol dalam syair Arab jahiliyah adalah menonjolkan sifat kejantanan dan dan keperwiraan, menceritakan segala macam pengalaman yang baik maupun yang buruk dan sebagainya.

2.        Keadaan Sastra Arab di Masa Perkembangan Islam

Zaman perkembangan islam dimulai sejak munculnya islam hingga berakhirnya kepemimpinan Khulafa’urrasyidin tahun 40 H. Sastra Pada periode ini dengan jelas menggambarkan tentang kehidupan masyarakat islam yang bergitu gemilang jauh dari kekacauan. Pada periode ini sastra pun berkembang sesuai dengan ruh keislaman.Dan pada zaman ini muncul genre sastra baru yaitu maqomat.

Jenis-jenis karya sastra di masa ini antara lain:  

1.        Puisi

Pada zaman ini didominasi puisi bersajak sedangkan temanya berkisar antara puji-pujian dan serangan  terhadap orang lain.tetapi ada juga tema tentang keagamaan dan mistik dan sedikit tentang anggur dan seks.

 

 

2.        Sastra non fiksi

Salah satu bentuknya adalah bentuk kompilasi yang merupakan rangkuman fakta, gagasan, kisah-kisah dan sya’ir dengan topic tertentu tetapi ada juga ragkuman tentang rumah,taman.wanita,orang tuna netra,binatang hingga orang kikir.

3.         Biografi

Sastra arab yang berhubungan dengan biografi contohnya adalah Kitab Al-Anshraf atau buku geneologi orang-orang terhormat bentuk yang lainya adalah bentuk kamus biografi.

4.        Buku harian

Buku harian disini mirip dengan buku harian modern.

5.        Sastra fiksi

Salah stu contoh sastra non fiksi adalah epik, dan dongeng

6.        Maqomat

Maqomat disini adalah sejenis anekdot

7.    Syair Romantis

Seperti syair kebanyakan tetapi isinya penuh dengan kata-kata dan kisah-kisah romantis seperti layla majnun.

Pujian yang awalnya sedikit namun pada masa khulafa al rasyidin mulai dikembangkan.

Pada zaman ini kedudukan sya’ir digantikan oleh khutbah dikarenakan beberapa hal:

1.        Semangat untuk menyebarkan islam dengan dakwah dan jihad.

2.        Pengaruh Al-qur’an dan hadits terhadap kefasihan sastra arab.

3.        Berkembangnya diskusi masyarakat dalam berbagai pembahasan baik sosial-politik pendidikan dan sebagainya.

4.        Penjelasan kebijakan politik dan hukum para kholifah.

 

3.        Keadaan Satra Arab di Masa Bani Umayyah

Masa ini dimulai sejak berdirinya Dinasti Umayyah tahun 40 H hingga masa keruntuhannya tahun 132 H. Pada masa Bani Umayyah puisi tumbuh subur karena adanya perhatian dari para kholifah terhadap sastra dan kecintaan mereka terhadap puisi bertemakan madah, dekatnya para kholifah dengan para penyair, munculnya partai-partai politik dari berbagai sekte agama yang masing-masing sekte mempunyai penyair yang mendukung dan membelanya, banyaknya pengangguran sehingga pemerintah umayyah menyibukkan mereka dengan menyuruh mereka membuat puisi dan aktif dalam bidang sastra, banyaknya para penyair yang mencari nafkah dari puisi, terpengaruhnya para penyair dengan gaya yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, serta munculnya berbagai dewan sastra atau forum diskusi sastra.

Gaya puisi pada masa Umayyah bermacam-macam, ada yang susah seperti gaya puisi pada masa Jahiliyah (prismatis) dan juga ada yang mudah (diafan), seperti bahasa sehari-hari, serta ada yang berada di tengah-tengah antara keduanya.

 

A.       Kekhususan Sastra Arab di Masa Bani Umayyah

Kekhususan sastra pada masa Umayyah adalah terdapat puisi yang menggambarkan tentang perluasan islam dan dakwah islam. Puisi ini merupakan perkembangan dari puisi yang terdapat pada masa permulaan islam. Dalam puisi ini digambarkan tentang bagaimana islam memperluas daerahnya, tentang keimanan tentara muslim, atau tentang berjihad di jalan Allah. Adapun tema-temanya meliputi patriotisme, ratapan, dan kerinduan kepada tanah air.

Ciri-ciri puisi pada masa ini antara lain sebagai berikut.

a)        Diksi bersih, jernih, dan tepat, karena dekat dengan zaman Nabi

b)        Khalifah-khalifah Umayyah mengizinkan mengawali puisi dengan pujian terhadap wanita kesayangan mereka dimana hal ini tidak boleh pada zaman khulafa al rasyidin.

c)        Kritik dan sinisme yang tidak dikenal pada pra-islam, pada masa ini sangat populer.

 

B.       Sastrawan-sastrawan Kontemporer dan Karya-karyanya

Pada masa Umayyah ada beberapa tema yang berkembang dan ada juga yang baru. Di antara beberapa tema yang berkembang adalah:

a.        Al madah

Pada Zaman Jahiliyah tema ini terbatas pada pujian terhadap kemuliaan, keberanian dan kesetiaan para pimpinan pada masyarakatnya, sementara pada zaman ini, pujiannya berkembang pada aspek lain, seperti agama, kehidupan politik, atau sosial. Para penyair memuji seseorang karena ketaqwaannya, kesalehannya, keistiqomahannya, kerajinannya menjalankan sholat, syariat islam dan naik haji.

b.        Al Hijja’

Di zaman ini tema ini  berkembang dan berubah menjadi naqa’idh. Tema ini mencatat kehidupan zaman Umayyah, seperti sistem politik dan gaya kehidupan sosialnya atau adat istiadat orang-orang Arab yang baik atau yang buruk, misalnya dalam puisi Jarir mengejek Akhtal dan kaumnya bahwa mereka kafir. Para penyair terkemuka dalam tema ini adalah Jarir, Farazdaq, dan Ar-Ra’i An-Numayri.

c.         Al Ghazal

       Tema ini berkembang pada zaman Umayyah karena munculnya kehidupan yang serba mewah di berbagai tempat.

d.        Al Wasfu

Tema ini berkembang pada zaman Bani Umayyah karena kehidupan orang Arab pada saat itu mulai berubah baik dari segi mata pencahariannya, cara hidupnya maupun tempat tinggalnya. 

Adapun tema-tema baru yang muncul pada zaman Bani Umayyah adalah: Al-Siyasat (Politik) dan An-Naqa’idh (Polemik).   

4.        Sastra Pada Zaman Abasiyah

Zaman Abasiyah disebut dengan zaman keemasan (the golden age),  tidak hanya pada segi sosial dan politik yang berkembang, namun bidang lainnya juga berkembang termasuk sastra, budaya dan agama. Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak dari berkesenian ini dikarenakan pula Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman Bani Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama.

Karya-karya sastra yang berkembang pada saat itu sangat banyak sekali yang temanya berbeda dengan tema yang ada pada zaman-zaman sebelumnya. Puisi mengalami perkembangan yang amat pesat dikarenakan adanya dorongan dari para khalifah dan para pemimpin yang berkuasa pada saat itu, seringkali ditemukan tema-tema nya sama dengan sebelumnya tapi ada juga yang baru yaitu zuhdiyat (zuhud), khamariyat (minuman keras), thardiyat (perburuan). Tema fakhr yang pada Zaman Jahiliyah dipergunakan untuk membanggakan suku dan kehormatannya, pada zaman ini fakhr digunakan penyair  untuk membanggakan diri, kehidupan, dan perasaannya sendiri.

            Adanya gerakan penerjemahan yang banyak menghasilkan pemikiran filsafat ke dalam puisi-puisi mereka, seperti dalam puisi Abu Tamam, Al-Muntanabbi dan Abu A’la al-Ma’ary. Adanya taman-taman yang indah,lengkap dengan air mancur di tengah-tengahnya, istana-istana yang besar dan lain-lain.

         Pada zaman ini beberapa penyair menghilangkan bagian awal qasidah dan ithlal (sisa reruntuhan rumah). Mereka cenderung memulai qasidahnya dengan diskripsi tentang istana dan musim semi. Mereka menjaga hubungan antara bagian qasidah tersebut dan susunan strukturnya.

            Pada zaman ini prosa khitabat (khutbah) berkembabg pesat dan tidak ada sesudah zman ini. Tema khitobat biasanya berisi ajakan dari pemerintah untuk masyarakat untuk tetap tenang, seruan untuk berpegang teguh kepada agama ,anjuran patuh kepada khalifah, seruan pada tentara agar bangkit, sambutan para tamu serta berisi peringatan atau janji-janji.

            Ciri-ciri pidato pada zaman ini adalah gaya sederhana, kata-katanya mudah dimengerti, penggunaan kalimat yang panjang dan pendek seimbang, kadang-kadang kalimatnya bersajak, mengutip ayat-ayat al-Qur’an atau puisi-puisi Arab yang baik.

            Salah satu contoh pidato pada zaman ini ialah khutbah Abu Abas as-Saffah ketika diangkat menjadi khalifah.

"ازَعْمتْ السيّئةُ أنّ غيرنا أحق بالرّياسة والخلافة منّا.....بم ولم أيّها النّاس ؟ وهدى الله الناسَ بعد ضلالهم....................."

            Khutbah ini adalah pidato politik pertama yang disampaikan oleh Abu al-Abbas As-Saffah pada awal massa pemerintahannya di masjid Kuffah. Dia adalah khalifah Bani Abbasiyyah pertama, nama lengkapnya adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Selain sebagai khalifah dia juga seorang cendikiawan dan sastrawan. As-Saffah memulai pidatonya dengan membaca hamdallah kepada Allah SWT, sholawat Nabi Muhammad SAW, lalu menyebutkan keutamaan Bani Abbasiyyah, yang diperkuat dengan, membacakan salah satu ayat dari al-Qur’an al-Karim yang menunjukkan tentang kemuliaan ahlu al-bait, yaitu: qullaa ‘as’alukum ‘alayhi ajran ‘illaa al-mawwadata fi al-qurba (Katakanlah: aku tiada meminta upah atau gaji kepadamu atas seruan ini, kecuali untuk berkasih sayang dalam kekariban) (Asy-Syura, ayat 23).

          Pada masa ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ajam (non Arab), tetapi tidak membuat ssastra pada zaman ini ketingalan zaman secara tiba-tiba. Sejumlah penulis besar tetap mengikuti gaya zaman ini meskipun gaya saj’ baru sudah mendapat dasar di sekitar mereka. Saj’ terdiri dari prosa yang frase-frasenya berirama dalam kelompok dari dua atau lebih bagian. Syarat-syaratnya antara lain adalah kata-katnya harus indah dan merdu, tiap frase beriramanya mengandung makna yang berbeda, frase beriramanya memenuhi persyaratan tawazun, frase sesudahnya harus selalu lebih pendek dari pada frase sebelumnya. Badi’ di lain pihak, yang mengandung saj’ dan lain-lain, dapat menjadi banyak bentuk. Sebagaian ahli sastra menyebutkan 14 ragam badi’dan sebagian lagi menyebutkan dua kali lipat dari itu atau lebih. Badi’ terdiri dari penciptaan frase yang identik dalam struktur suku kata, terkadang dalam bentuk huruf tanpa tanda dikritikalnya, tetapi berbeda dalam makna. Contoh terbaik saj’ dan badi’ hádala seperti berikut.

1. Korespondensi kekhalifahan

2. Esai sastra

Esay sastra disusun disusun penulisnya untuk melukiskan perbincangan, melaporkan pidato, menuturkan kisah, atau menguraikan tema keislaman, moral, atau kemanusiaan. Yang termashur antara lain Risalah Al Ghufron.

3. Maqamat

Badi al-Zaman al-Hamadzani dikenal sebagai pencipta maqamah, sejenis anekdot dramatis yang substansinya berusaha dikesampingkan oleh penulis untuk mengedepankan kemampuan puitis, pemahaman dan kefasihan bahasanya. Sebagai contoh,cerita tentang abu nuwas.

 

5.        Sastra Pada zaman Kemunduran Islam

Salah satu ciri sastra pada zaman ini adalah adanya ketertarikan terhadap sastra populer. Ini dapat dilihat dari puisi dan prosanya. Pada masa ini alf wa layla sudah berada pada bentuk yang terakhirnya, Legenda dan Roman semakin digemari. Para penulis pada zaman ini adalah penulis-penulis ulung yang karyanya menunjukkan teknik-teknik yang baik. Tema-temanya, meski kuno, tapi bervariasi dan hidup.

Pada zaman ini puisi yang terkenal adalah al-Burdah (Jubah Nabi)  yang bertajuk Burdah Bushiri yang puisi-puisinya tersebut bertemakan pujian-pujian terhadap nabi Muhammad SAW.

            Pada zaman ini juga di kenal adanya sastra perjalanan, sebuah karya sastra yang berisikan tentang perjalanan seorang sastrawan yang berpindah-pindah dari negara atau daerah satu ke daerah lain. seperti Al-Dimisyqi, Abu Al-Fida, Ibnu Majid dari Nejd. Selain itu ada pula  Al-Qalqashandi, yang menulis ensiklopedia tentang teknik dan cara menulis yang ditujukan untuk para penulis dan sekretaris.

Pada masa ini, sejumlah ahli sejarah dan penulis biografi penting bermunculan, seperti Al-Dhahabi yang menulis buku History of Islam, Al-Safadi yang menulis buku tentang orang-orang pertama yang hidup dalam sejarah islam abad  7 yang disusun secara alfabetis, Ibnu Hajar, Al-Syarkawi, dll. Ibnu Taimiyah, seorang pemikir agama besar juga hidup pada zaman ini.

salah satu genre sastra yang dikembangkan dengan baik, yaitu seni pertunjukan wayang (zhill). Pertama kali muncul dengan tajuk Thayf al-Khayal fi Ma’rifah Khayal al-Zhill (Bayang-bayang Imajinasi tentang Pengetahuan Pertunjukan Wayang) oleh Muhammad ibn Daniyal al-Khuza’I al-Maushili.  

 

6.        Sastra Pada Zaman Kebangkitan Islam

 

A.      Ciri-ciri kebangkitan sastra pada masa ini

Hal ini dapat dilihat dengan adanya perhatian besar terhadap bangkitnya kembali karya sastra arab klasik yang ada pada masa lalu, baik kesusastraan maupun filsafat dan disiplin ilmu lainnya. Hal ini juga membuka munculnya para penulis yang setia terhadap peninggalan-peninggalan klasik mereka. Bentuk dan model klasik ini diikuti oleh sejumlah penulis pada masa permulaan kebangkitan. misalnya adalah sayyid Ali Darwis di mesir yang menulis puisi mutanabbi (10 M) dan maqomat hariri (12 M).

 

B.       Sastrawan-Sastrawan Kontemporer dan Karya-Karyanya

       Genre-Genre Sastra hasil dari masa kebangkitan

1.        Novel

Novel muncul pada pertengahan abad ke-19, dimulai dari novel terjemahan dan diterbitkan secara bersambung di majalah-majalah.

Perkembangan novel dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:

1)        Novel yang masih dipengarui oleh al-maqamat, salah satu genre sastra pada masa sebelumnya, seperti novel Hadist Isa bin Hisyam, karya Muhammad al-Muwalhi (1858-1930) dan karya Hafiz Ibrahim (1870-1932) yang berjudul Layali Satih.

2)        Novel yang sudah meninggalkan ciri maqamat-nya, seperti  

Rifaat-Tahtawi (1801-1873) yang menerjemahkan novel Telemaque, karya sastrawan prancis, fenelon. Dan Mustafa Luthfi al-Manfalhuti (1876-1924) yang menerjemahkan Paul et Virginia.

3)        Novel asli yang ditulis oleh para novelis arab, seperti Zainab, Karya Muhammad Husayn Haikal (1888-1965).

 

2.        Cerpen

Cerpen pertama dalam bahasa arab juga berupa terjemahan atau sdaduran dari kesusastraan Eropa, terutama Inggris dan Prancis. Beribu-ribu cerpen terbit di Mesir dan Lebanon antara tahun 1870-1914.

Cerpenis-cerpenis yang Terkenal pada masa ini adalah

a)        Jurji Jabrail Balit yang merupakan penerjemah cerpen pertama di Syiria

b)        Mustafa Luthfi al-Manfaluthi yang merupakan seorang esais dan novelis

 

3.        Drama

Pada masa ini telah  muncul Drama dalam kesusastraan Arab Pelopornya adalah Marun Naqqas menulis drama musikal pertama yang berjudul al-Bakhil (Si Bakhil )yang terinpspirasi dari drama dari perancis Molière's drama L'Avare.

Puisi pada masa ini dimulai dengan ekspresi-ekspresi mengenai  politik, sosial dan budaya. Secara umum gambaran tentang puisi Arab di Mesir sampai tahun 1920 baik bentuk bahasanya masih mengunakan bentuk dan bahasa yang lama, sementara mengenai temanya, masih ada yang menggunakantema yang lama tapi di adaptasi dengan suasana yang baru dan ada juga tema-tema yang baru, seperti tema nasionalisme. Tema nasionalisme ini kadang menyurakan tentang Pan Arabisme, Pan Islamisme atau tema yang menunjukkan kesetiaan kepada Sultan Turki.

Pada masa Kebangkitan (An-Nahdhah) dan masa Modern (al-Hadist), perkembangan puisi dapat dibedakan menjadi 3 aliran,

1)                  Aliran al-muhafidzun, yaitu aliran yang masih memelihara kaidah puisi Arab secara kuat, misalnya

§     Keharusan menggunakan wazan (pola), qafiyah (rima)

§     Jumlah katanya harus banyak

§     Uslubnya kuat

§     Temanya masih mengikuti tema-tema masa sebelumnya, seperti madah (pujian), ghazal (pacaran), fakhr (membanggakan diri) dan sebagainya.

2)                  Aliran al-majaddidun yaitu aliran yang muncul karena adanya perubahan situasi politik, sosial dan pemikiran.adanya keinginan untuk lepas dari hal-hal yang berrbau tradisional, adanya pengaruh aliran romantik, dari penyair-penyair Barat, adanya penelitian-penelitian modern tentang modern tentang jiwa, yang menjadikan menjadikan puisi sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan jiwa dan realita pada masyarakat. Termasuk dalam kategori aliran ini adalah

§     Khalil Matram Karya-karyanya cenderung bersifat politis. Puisi-puisi liriknya banyak menggambarkan tentang tena nasionalistik. Ia menerjemahkan beberapa drama dari bahasa Prancis dan Inggris

Dalam puisi-puisi ini terdapat

§     adanya pembaharuan dalam topiknya, khususnya dalam hal yang menyangkut tentang masyarakat dan kehidupan, serta kasus-kasus yang terjadi di masyarakat dan kehidupan

§     adanya pembaharuan dalam deskripsi dan majaz-majaznya

§     adanya pengaruh aliran simbolis dalam puisi arab

§     adanya kecenderungan memotong-motong puisi.

3)                  Aliran Mughallinu, yaitu aliran yang mengikuti aliran sastra yang ada di eropa setelah perang dunia ke satu. Ciri-ciri dari aliaran ini adalah tidak vokal, tapi menggunakan cara yang pelan-pelan, didominasi oleh deskripsi.

Yang termasuk dalam kategori ini adalah

§     Ibrahim Najdi (1847-1906)

 

7.        Sastra Arab Modern diaspora dan mahjar

Menjelang zaman modern, sastra Arab mulai dihadapkan dengan sastra Barat. Dalam hal ini, terdapat dua aliran utama. Pertama, aliran konservatif (المحافظون), yakni mereka yang masih memegang kaidah puisi Arab secara kuat. Mereka itu antara lain Mahmud Al-Barudi dan Ahmad Syauqi. Yang terakhir disebut ini sering dikenal dengan sebutan أمير الشعراء (Pangeran Para Penyair) dan Poet of Court (Penyair Istana). Disamping itu terdapat pula Hafizh Ibrahim yang dikenal dengan sebutan Poet of People (Penyair Rakyat). Aliran yang kedua ialah aliran modernis (المجددون), yakni mereka yang ingin lepas dari kaidah dan a tradisional serta sangat terpengaruh oleh sastra Barat.
         Memasuki zaman modern, perseteruan antara sastra Arab dan sastra Barat semakin menjadi-jadi. Dalam dunia puisi, terdapat dua aliran utama, yakni konservatif dan modernis. Di kubu konservatif terdapat Mushthafa Shadiq Al- Rafi’i, Mahmud Abbas Al-Aqqad dan kawan-kawan. Sementara di kubu modernis terdapat Ahmad Amin, Muhammad Husain Haikal, Taha Husain, dan kawan-kawan. Dalam dunia puisi juga terdapat aliran konservatif dan modernis. Aliran modernis memperkenalkan puisi bebas (puisi tanpa sajak). Beberapa sastrawan aliran Romantik pada tahun 1930-an telah mendirikan kelompok penyair bernama Kelompok Apollo. Satu perkembangan unik puisi di masa ini ialah munculnya شعر المقاومة (Puisi Perlawanan) yaitu puisi yang menggelorakan perlawanan Islam dan Arab melawan Zionis Israel.

Kesusastraan Arab Modern memiliki wajah baru baik dari segi bentuk maupun isinya, dan muncul pula qosidah-qosidah Arab dengan wajah yang baru. Syair Arab modern mampu bertahan dari akhir abad ke 19 sampai sekarang yang menunjukkan keberadaannya.

            Dari segi temanya, puisi pada masa ini dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1.        tema-tema lama yang masih dipakai dan semakin banyak digunakan, seperti:

a.         wasf (diskripsi), pada masa modern tema-tema ini sudah memberikan gambaran tentang masalah-masalah yang menyangkut perasaan atau jiwa.

b.        Fahr (membanggakan diri). Maksud digunakannya tema ini adalah untuk membangkitkan perjuangan suatu bangsa dalam melawan penjajahan asing, yang diagung-agungkan dalam tema ini biasanya adalah tokoh-tokoh sejarah.

c.         Madah (puji-pujian), tema ini ditujukan kepada para pejuang kemerdekaan dan kebangsaan.

 

2.        Tema-tema yang mengalami sedikit perubahan, seperti:

a.         naqdun (kritikan), tema ini lebih banyak ditujukan kepada persoalan individu maupun kolektif.

b.        Keperwiraan, tema ini lebih banyak digunakan untuk mengagungkan sebuah bangsa atau umat

c.         Ritsa (ratapan), tema ini digunakan untuk meratapi para pejuang yang telah gugur di medan perang, bahkan untuk bangsa dan negara yang telah hancur.

d.        Ghazal (cinta), tema ini lebih fokus pada nyanyian-nyanyian cinta yang melukiskan gelora perasaan jiwa.

 

3.        Tema-tema baru yang muncul pada zaman modern, seperti

a.         Hamasah wa wathoniyyah(patriotik), tema ini berisi tentang rasa cinta tanah air dan bertujuan untuk membakar semangat rakyat dan menyeru kepada rakyat untuk mengorbankan segala-galanya demi negara.

وللاأوطان في دمّ كل حرّ      #          يد سلفت ود ين مستحقّ

ومن يسقى ويشرب بامنايا    #          إذا الاحرارلم يسقوويسقوا

ولايبنى الممالك كالضحايا    #          ولايدنى الحققوق ولايحق

ففى القتلى لاجيال حياة        #          وفتى الأسرى فدى لهمووعتق

b.        Syi’run Da’wah Ila Ishlahi al-ijtimaa’i(kemasyarakatan), sesuai dengan kondisi masyarakat pada waktu itu yang baru saja melepaskan diri dari cengkraman penjajah, masalah kemiskinan dan masalah sosial yang lain. Masalah-masalah ini yang menjadi sorotan para penyair pada masa modern.

ايها المصلحون ضاق بنا العيشف في مصر لنسه #          و يطلب اسباب الحاة لذاه

طروب الأمانى يبالى بشعه                           #          وإن ملأ الدنيا ضجيع نعاته

إذا نال  ما يرجوه لم يعنه امرؤ                       #          سواه ولم يحفل بطوله سكاته

سواء عليه منزل السخط والرضا                    #          إذا نال ما يرضيه من شهواته

يرى الدين و الدنيا  ثراء يصيب                     #          و قصرا نزل العين عن شرفاته

4.        Asy-syi’ru al-wijdaani(kejiwaan). Tema ini berisi tentang rintihan, keluhan jiwa penderitaan, kesengsaraan, harapan, dan cita-cita.

مرت االايام

لم نلتق, انت هناك وراء مدى الااحلام

في افق حف به المجهول

وانا امشى, وارى وانام

استنفد ايامى واجر غدى المعسول

فيفر الى الماضى المفقود

ايامى تأكلهااالاهات متى ستعود؟

مرت ايام لم تتذكر ان هناك

في زاوية من قلبك حبا مهجورا

عضت في قدميه الاشواك

حبا يتضرع مذعورا

هبه النور..............

a.                 Puisi drama, yakni puisi yang dibuat secara puitis.

قيس       : ليلاى , ليلى القلب

ليلى          : قيس , مالى دارت بى الأرض وساء حالى                                                   

قيس           : فد اك ليلى مهجتى ومالى من السقام ومن الهزال                                                                  

 تعالى اشكى لى النوى تعالى القى ذراعيك على خيال                                                                  

(تصافحه بشوق)

 

ليلى          : أحق حبيب القلب انت بجانبى احلم سرى أم نحن منتبهان

                 أبعد تراب المهد من أرض عامر بأرض ثقيف نحن مغتربان


 

KESIMPULAN

            Seiring dengan berkembangnya zaman, karakteristik karya sastra arab semakin berkembang. Banyak yang terpengaruh budaya barat dengan menulis karya sastra secara bebas tanpa ada aturan tertentu. Akan tetapi para penyair arab banyak pula yang masih berpegang teguh pada bahr dan rima-rima yang ada. Dan diantara keduanya ada yang tetap mempertahankan tema-tema yang lama dengan penulisan yang lama akan tetapi tidak terlepas dari perkembangan zaman, atau disebut sastra modern yang telah terpengaruhi oleh berbagai budaya luar arab.

            Banyak hal yang mendominasi kemajuan dan kemunduran sastra seperti halnya faktor politik, ekonomi, dan sistem pemerintahan pada masa tersebut. Semakin baik sistem pemerintahan yang ada pada suatu masa maka demikian pula yang akan terjadi pada karya sastra yang dihasilkan pada saat itu. Begitu juga sebaliknya. Jadi secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa perkembangan karya sastra dari masa ke masa tidak selalu menjadi lebih baik karena adakalanya perkembangan tersebut tidak lebih baik dari masa sebelumnya.

                                                       

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

From: http/WWW.HUMBUD.UIN-MALANG.AC.ID. (online). Selasa,15 November2010.12:45.

From: http://www.averroes.or.id/thought/pengaruh-sastra-arab-terhadap-andalusia-dan-barat.html. (online). kamis 9 Desember 2010

From: http://kafeilmu.co.cc/tema/ciri-ciri-sastra-zaman-islam.html. (online). kamis 9 november 2010

Kumpulan makalah Sastra Arab.2009.                

Sutiyasumarga, males.2001.Kesusastraan Arab Asal Mula dan Perkembangannya.Jakarta: Zikrul Hakim.   

Comments

Popular posts from this blog

Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa (Semantik)

IBDA:L DAN WAQAF

SEJARAH SASTRA PADA ZAMAN ABBASIYAH