SASTRA ARAB PADA MASA KEBANGKITAN ISLAM
1. Pendahuluan
Perkembangan karya sastra saat ini sangat pesat. Hal ini
tidak lepas dari sejarah perkembangannya dari masa lampau hingga masa modern,
dan juga dari masa kejayaan, kemunduran hingga kebangkitan kembali. Mengetahui
perkembangan karya sastra dari masa ke masa sangat penting karena dapat
meningkatkan kualitas serta motivasi dalam pembuatan karya –karya sastra yang
baru.
Pembahasan mengenai masa kebangkitan sastra khususnya
sastra arab merupakan serangkaian dari pembahasan-pembahasan sebelumnya terkait
dengan masa kemunduran sastra yang terjadi pada abad ke 12-17 H.
Mempelajari perkembangan sastra khususnya pada masa
kebangkitan dapat menambah pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi
kebangkitan sastra tersebut dan dengan mempelajarinya dapat menjadi suatu
pembanding mengenai perkembangan sastra dari masa ke masa serta faktor-faktor
yang mempengaruhinya. Dengan mengetahui faktor-faktor kebangkitan serta hal-hal
yang berkaitan dengan masa kebangkitan tersebut dapat menambah khasanah
pengetahuan dan dapat dijadikan latar belakang kemajuan sastra pada masa modern
saat ini.
2. Keadaan Lingkungan Masa Kebangkitan Sastra
Periode antara 1798 sampai 1920 biasanya disebut sebagai masa
kebangkitan atau ashr an-nahdloh yaitu
masa kepemimpinan Sholahuddin al- Ayubi (1137-1193) yang diangkat sebagai raja
mesir pada tahun 1176. Akan
tetapi ada beberapa ahli sejarah kesustraan arab yang menyebut masa ini ke
dalam ashr al-hadits (modern).
Pada umumnya, periodesasi kesusastraan dibagi sesuai dengan
perubahan politik. Sastra dianggap sangat tergantung pada revolusi sosial atau
politik suatu negara dan permasalahan menentukan periode diberikan pada sejarawan
politik dan sosial, dan pembagian sejarah yang ditentukan oleh mereka itu
biasanya diterima begitu saja tanpa dipertanyakan lagi (Wellek, 1989:354).
Keadaan lingkungan di Negara Arab pada masa ini banyak
dipengaruhi oleh budaya-budaya prancis dan ilmu pengetahuan barat
yang diperkenalkan pertama kali oleh Napoleon Bonaparte.
Seorang sejarawan mesir, Al-Jabarti memberikan gambaran
tentang keadaan Mesir pada
saat itu. Menurutnya, tahun 1998 merupakan mulainya masa perang besar,
peristiwa yang buruk, kejadian-kejadian yang membawa malapetaka,
bencana-bencana yang mengerikan, kemalangan yang terus meningkat, cobaan dan
godaan yang berturut-turut, penyiksaan, kekacauan, segala sesuatu yang
membingungkan, teror yang terus- menerus, pemberontakan, bencana alam dan penghancuran masa. Namun demikian
sastra dapat bangkit kembali dan berkembang pada masa ini karena faktor-faktor
berikut:
1. Bersatunya antara kebudayaan
barat dengan kebudayaan timur. Pada awal kurun yang lampau yang diusung pertama
kali oleh Napoleon Bonaparte dan pengambilan kekuasaan dari tangan para
komunis, dan lain dari pada itu negara bagian timur menjadi tempat bekerja bagi
mereka, dan mereka menjadikan bahasa arab sebagai
bahasa yang resmi untuk menyebar luaskan beberapa ajaran dan sastra. Adapun
beberapa pekerjaan mereka yang ada di Suriah tidak terlepas dari beberapa
peninggalan yang ada di Mesir, maka dibangunlah beberapa sekolah dan kebanyakan
dari mereka adalah orang-orang Syam Nasrani, maka keluarlah beberapa kelompok
dari mereka yang mempunyai kelebihan berbahasa Arab dan kemudian mengembangkan
keilmuwan dan kesusastraan arab.
2. Bertambahnya jumlah orientalis
di Eropa bagian timur dan usaha mereka terus berlanjut hingga mendapatkan
beberapa publikasi Arab dan dicetaklah beberapa buku berbahasa Arab.
3. Dibangunnya sekolah yang
bermacam-macam yang didirikan Muhammad Ali Basya dengan bantuan para pengajar
dari Eropa dan beberapa ulama Mesir. Dan dibangun pula -sekolah yang didirikan
oleh Khudhowi Ismail, yang merupakan sekolah bahasa Arab yang sangat besar,
sedangkan sekolah sastra yaitu sekolah Darul Ulum. maka tercetaklah dari
sekolah-sekolah ini ratusan guru, hakim, dan para penulis kitab.
4. Adanya utusan kaderisasi ilmu
pengetahuan, yaitu Muhammad Ali Basya dan Ismail Basya kepada sejumlah kerajaan
yang ada di Eropa untuk menyampaikan bermacam-macam ilmu pengetahuan, dan
pengutusan tersebut berjalan selama 12 tahun.
5. Adanya propaganda dalam
pembelajaran bahasa asing, sehingga sistem pengajaran pada saat itu dengan cara
paksa seperti yang ada di Mesir dan Syam dan sekolah-sekolah negeri, perguruan
tinggi dan sekolah-sekolah pusat da’wah. Dari sanalah banyak di nukil
kalimat-kalimat yang berbahasa Perancis kedalam bahasa Arab. Maka dengan adanya
Atsar dari bahasa tersebut, beberapa hasil pemikiran orang-orang pada waktu itu
dapat terbukukan dan menyebar luas hingga mereka mampu menerjemahkan ribuan
kitab, riwayat, dan makalah-makalah politik ilmiah kedalam bahasa Arab. Maka
hal tersebut juga dimanfaatkan bagi orang yang tidak paham dengan bahasa asing
sehingga menjadi tahu dengan jelas sastra yang yang mendalam.
6. Didirikannya percetakan
berbahasa Arab di Mesir, Syam, dan konstantinopel. kemudian dicetaklah beberapa
mushaf-mushaf dan beberapa kitab ilmu sastra. Dan diantara kitab-kitab yang
terpenting yang tercetak untuk menghidupkan kembali bahasa Arab dan
kesusastraanya, yaitu kitab-kitab yang berbentuk kamus seperti kamus istilah
dan beberapa penjelasan dan beberapa kitab-kitab modern yang lainnya yang
tersebar di Eropa.
7. Diterbitkannya surat kabar Arab
yang ada di Mesir Syam dan Konstantinopel. Dan koran pertama di Arab yaitu
Al-Waqoi’Al-Misriyah yang terbit pada tahun 1828. Awalnya sebagian teks
berbahasa Turki, yang kemudian dirancang kembali oleh Syaikh Hasan Al-Ithari
dan Syaikh Syihabuddin, sehingga kemudian terpisah antara yang berbahasa Arab
dan Berbahasa Turki. Sedangkan koran yang berbahasa Arab pertama kali terbit di
Suriah yaitu Hadiqatul Akbar yang terbit pada tahun 1808, sedangkan di
Konstantinopel pada tahun 1860, yang mana redakturnya adalah Ahmad Faris.
Kemudian terbit juga setelah itu koran Suriah resmi pada tahun 1865. Adapun
koran yang pertama kali terbit di Mesir setelah Al-Waqai’ adalah Wadi Annaily
(koran lama) dan terbit pula koran-koran yang lain seperti Al-Iskandariyah,
Azzaman, Al-Ibtidal, Al-Fallak Wal Ahram, Al-Muqtim, Wal Muayyad, Wal-Lukluk,
Wal-Ilmu, Wal Jaridah dan Syuad.
8. Adanya kelompok-kelompok
ilmuwan dan sastrawan, dan yang paling terkenal pada saat itu Syaikh Jamaluddin
Al-Afghari
9. Adanya kreasi seni berbahasa
Arab, pertama kemunculannya di Syam kemudian menyebar ke Mesir yang bertujuan
untuk memberantas budaya buta seni dan kelemahan dalam berbahasa Arab yang
fasih dan lancar.
Adapun ciri-ciri kebangkitan sastra pada masa ini dapat
dilihat dengan adanya:
1. perhatian besar terhadap
bangkitnya kembali karya sastra arab klasik yang ada pada masa lalu, baik
kesusastraan maupun filsafat dan disiplin ilmu lainnya. Hal ini juga membuka
munculnya para penulis yang setia terhadap peninggalan-peninggalan klasik
mereka. Bentuk dan model klasik ini diikuti oleh sejumlah penulis pada masa
permulaan kebangkitan. misalnya adalah Sayyid Ali Darwis di Mesir yang menulis
puisi mutanabbi (10 M) dan maqomat hariri (12 M). Selain itu pada masa ini juga banyak
para sastrawan yang menghasilkan karya sastra yang merupakan sadruran dari
hasil karya sastra para sastrawan dimasa lalu. Hal ini muncul karena banyaknya
orang yang merindukan karya-karya sastra dizaman dahulu, sehingga karya sastra
saduran ini banyak diminati. Salah satu satrawannya adalah Abu Tyb Ahmad
Al-muntanabi.
2. Munculnya pertentangan antara
kaum tradisionalis, kaum modernis dan mereka yang berada diantara keduanya yang
menyebabkan pertentangan antara kebudayaan Islam tradisional dengan kebudayaan
Eropa Modern
3. Munculnya kecenderungan baru
dalam kesusastraan arab
4. Munculnya para pengikut
berbagai sekolah aliran sastra
5. Munculnya sejumlah genre
sastra sebagai hasil dari perkembangan baru yang dipengaruhi oleh sastra barat
seperti, novel, cerpen, esai dan drama.
3. Kekhususan Sastra pada Masa
Kebangkitan
Perkembangan
sastra pada masa ini berkembang pesat selayaknya karya sastra-karya sastra pada
masa sebelumnya akan tetapi, sebagian besar karya sastra pada masa ini
dipengaruhi oleh budaya barat seperti Prancis, Inggris dan Amerika. Hal ini terlihat dari hasil karya
sastra berupa novel, cerpen, prosa, dan puisi.
Puisi pada masa ini dimulai dengan ekspresi-ekspresi mengenai politik, sosial
dan budaya. Secara umum gambaran tentang puisi Arab di Mesir sampai tahun 1920
baik bentuk bahasanya masih mengunakan bentuk dan bahasa yang lama, sementara
mengenai temanya, masih ada yang menggunakan tema
yang lama tapi di adaptasi dengan suasana yang baru dan ada juga tema-tema yang
baru, seperti tema nasionalisme. Tema nasionalisme ini kadang menyurakan tentang
Pan Arabisme, Pan Islamisme atau tema yang menunjukkan kesetiaan kepada Sultan
Turki. Cerpen pertama dalam bahasa arab juga berupa terjemahan atau saduran
dari kesusastraan Eropa, terutama Inggris dan Prancis.
Selain
itu pada masa ini terdapat karya sastra berupa khitobah yang bertemakan agama.
Kemudian dengan kedatangan Sayyid Jamaludin Al-Afgoni yang mendirikan majelis
untuk para penyair maka para penyair terpengaruh sehingga tema khitobah pada
masa ini berubah menjadi bertema agama, politik, dan akhlak.
4. Sastrawan-Sastrawan
Kontemporer dan Karya-Karyanya
Genre-Genre Sastra hasil dari masa kebangkitan
1. Novel
Novel muncul pada
pertengahan abad ke-19, dimulai dari novel terjemahan dan diterbitkan secara
bersambung di majalah-majalah. Perkembangan novel dibagi menjadi 3 tahap,
yaitu:
1. novel yang masih dipengarui
oleh al-maqamat, salah satu genre sastra pada masa sebelumnya, seperti novel
Hadist Isa bin Hisyam, karya Muhammad al-Muwalhi (1858-1930), dan karya Hafiz
Ibrahim (1870-1932) yang berjudul Layali Satih
2. novel yang sudah meninggalkan
ciri maqamat-nya, seperti Rifaat-Tahtawi (1801-1873) yang menerjemahkan novel
Telemaque, karya sastrawan prancis, fenelon. Dan Mustafa Luthfi al-Manfalhuti
(1876-1924) yang menerjemahkan Paul et Virginia.
3. novel asli yang ditulis oleh
para novelis arab, seperti Zainab, Karya Muhammad Husayn Haikal (1888-1965)
Novelis-Novelis
yang Terkenal pada masa ini adalah
1. Francis Fathullah Marras
(1836-1873) dimana ia mengambil bentuk cerita berbingkai seperti 1001 malam.
2. Nu’man Ibnu Abduh al-Qusatali
(1854-1929) yang menulis 3 buah novel yang dimuat secara bersambung pada
majalah al-Janan
3. Syukri ibn Ali al-Asali
(1868-1916) yang menulis novel bertemakan sosial yang diterbitkan di majalah
al-Muqtabas dan merupakan novel pertama di arab yang dijadikan sebagai film
4. Abdul al-Masih Antaki
5. Salim Butrus Bustani
6. Jurji Zaidan
7. Farah Antun
8. Abdul Qadir al-Mazini yang
pernah menulis trilogi novel yang berjudul Ibrahim al-Katib, Ibrahim Tsani dan
Tsalatsa Rijal wa Imra’a
2.
Cerpen
Beribu-ribu
cerpen terbit di Mesir dan Lebanon antara tahun 1870-1914. Cerpenis-cerpenis
yang Terkenal pada masa ini adalah
1.
Sali Butrus al-Bustani
2.
Jurji Jabrail Balit yang merupakan penerjemah cerpen
pertama di Syiria
3.
Mustafa Luthfi al-Manfaluthi yang merupakan seorang esais
dan novelis
4.
Jibran Khalil Jibran yang terkenal dengan kumpulan
cerpennya al-arwah al-mutamarridah (jiwa-jiwa pemberontak).
3.
Drama
Drama muncul dalam kesusastraan Arab pada
pertengahan abad 19. Pelopornya adalah Marun Naqqas. Ia lahir di Lebanon, 1817.
Pada tahun 1846, ia pernah berkunjung ke Italia dan mempelajari seni drama ini
di sana. Ketika pulang ke Beirut tahun 1848, ia menulis drama musikal pertama
yang berjudul al-Bakhil (Si Bakhil). Dan tahun 1850, ia menulis drama kedua
yang berjudul Abu Hassan(Si Tolol).
4.
Puisi
Pada
masa Kebangkitan (An-Nahdhah) dan masa Modern (al-Hadist), perkembangan puisi
dapat dibedakan menjadi 3 aliran,
1.
Aliran al-muhafidzun, yaitu aliran yang masih memelihara
kaidah puisi Arab secara kuat, misalnya
·
Keharusan menggunakan wazan (pola), qafiyah (rima)
·
Jumlah katanya harus banyak
·
Uslubnya kuat
·
Temanya masih mengikuti tema-tema masa sebelumnya, seperti
madah (pujian), ghazal (pacaran), fakhr (membanggakan diri) dan sebagainya.
Para Penyair yang
termasuk dalam kategori ini
·
Mahmud Syami al-Barudi (1838-1904), ia seorang tentara,
negarawan dan perdana menteri pada
masa pemerintahan Ahmad Arabi di Mesir. Ia pernah dibuang ke Ceylon selama 17
tahun dan tinggal di Kolombo. Kemudian kembali ke Kairo 4th sebelum
kematiannya. Ia dianggap sebagai Mutanabbi-nya masa Kebangkita.
·
Ahmad Syawqi (1868-1932)
Puisi-puisi yang ditulis
Syawqi bertemakan puji-pujian, elegi, cinta, deskriptif, politik,dan kritik
sosial.
·
Hafiz Ibrahim
Ia adalah seorang penyair
nasionalis yang menentang pemerintah Turki dan Inggris. Dibawah pengaruh Muhammad Abduh,
rasa nasionalismenya terhadap Mesir semakin kental.
·
Ma’ruf ar-Rusafi
Ia adalah penyair pertama
yang memasukkan rasa nasionalisme Irak dan aspirasi politik kedalam puisi.
2.
Aliran al-majaddidun yaitu aliran yang muncul karena adanya
perubahan situasi politik, sosial dan pemikiran.adanya keinginan untuk lepas
dari hal-hal yang berrbau tradisional, adanya pengaruh aliran romantik, dari
penyair-penyair Barat, adanya penelitian-penelitian modern tentang
modern tentang jiwa, yang menjadikan menjadikan puisi sebagai sarana untuk
mengungkapkan perasaan jiwa dan realita pada masyarakat. Termasuk dalam
kategori aliran ini adalah
·
Khalil Matram (1872-1949) Karya-karyanya cenderung bersifat
politis. Puisi-puisi liriknya banyak menggambarkan tentang tena nasionalistik.
Ia menerjemahkan beberapa drama dari bahasa Prancis dan Inggris
·
Abbas al-Aqqad (1889-1964)
·
Abdurrahman Syukri (1886-1958)arakat
·
Ibrahim al-Qadir al-Mazini (1890-1949)
·
Tahir Zamakhsari (1914-19987)
Dalam puisi-puisi ini
terdapat
·
adanya pembaharuan dalam topiknya, khususnya dalam hal yang
menyangkut tentang masyarakat dan kehidupan, serta kasus-kasus yang terjadi di
masyarakat dan kehidupan
·
adanya pembaharuan dalam deskripsi dan majaz-majaznya
·
adanya pengaruh aliran simbolis dalam puisi arab
·
adanya kecenderungan memotong-motong puisi.
3. Aliran Mughallinu, yaitu
aliran yang mengikuti aliran sastra yang ada di eropa setelah perang dunia ke satu. Ciri-ciri dari aliaran ini
adalah tidak vokal, tapi menggunakan cara yang pelan-pelan, didominasi oleh
deskripsi.
Yang termasuk dalam
kategori ini adalah
·
Ibrahim Najdi (1847-1906)
·
Badr Syakir Sayyab (1926-1964)
·
Muhammad Mishbah at-Fituri (1930-)
·
Mahmud Darwish (1942-)
·
Abdul Wahab al-Bayati.
5. Kesimpulan
Perkembangn
satra pada masa kebangkitan ini tidak kalah berkembangnya dengan masa-masa
sebelumnya. Perkembangan satra pada masa ini banyak dipengaruhi oleh kontak
bangsa arab dengan bangsa eropa modern. Perkembangan sastra pada masa ini
ditandai dengan adanya perhatian khusus terhadap bangkitnya karya-karya sastra
arab klasik baik kasusastraan filsafat dan disiplin ilmu lainnya, yang juga
menyebabkan timbulnya satrawan yang berpegang teguh terhadap satra klasik.
Penyebab
berkembangnya satra pada masa ini salah satunya adalah karena diperkenalkannya penerbitan
resmi pertama yang menarik banyak perhatian. Selain itu adanya perhatian besar
dari Mohammad ali untuk menterjemahkan buku-buku asing juga mempengaruhi
perkembangn satra pada masa ini.
Comments
Post a Comment